Total Pageviews

Translate

Monday, October 19, 2026

The City That Didn't Happen

I think, to a lesser extent, Yogyakarta has a unique place in my heart, just like Kuching. Neither is a city I am particularly fond of: Kuching has a fading, no, faded wow factor, and Yogyakarta has always bored me with its slow pace. Yet I keep returning, even when I don't want to.

In the case of Yogyakarta, this is the fifth time I have visited the city in the past 22 years. It was my cousin's wedding, and I ended up here alone because my daughter was down with influenza A, so my wife stayed behind. The first day was all right with family members around, though it felt a bit lonely to attend a two-hour wedding reception alone.

The cousins and the bride.

The second day was a transition. We celebrated my uncle's birthday over lunch at Tojoyo 3. To think that it was almost forgotten! The reminder happened to pop up on Facebook and I announced it spontaneously. After the lunch party, we went to buy bakpia, and then we parted ways. 

I walked from Bakpia Kukus Gondomanan to Novotel Malioboro and met Dr. Hengky halfway there. The last time I saw him was seven years ago when we did Tour de Java, but old friends that we are, it didn't take long for us to get reacquainted. 

The late lunch...

Dr. Hengky helped me swiftly pack the things I needed to send on behalf of my wife. Once done, we hung out at Cold 'N Brew next door while waiting for Hartono. Then we went for a late lunch at Sop Empal Muntilan before heading to Empire XXI for Street Fighter. 

While waiting for the movie, we talked, and Dr. Hengky shared some of his priorities in life. While they were commendable, I reminded him to make time to travel overseas with us. At least visit Singapore first. But given how stubborn our doctor could be, I doubted he'd listen, haha. 

Street Fighter was the perfect vehicle for us to pass the time in an otherwise slow-paced Jogja. I liked hearing them laugh next to me, and when the movie ended, they told me that it felt like the good old Orbit Wonderland days! Now these are people who know what they are talking about! My generation!

With our doctor, as he called a Gojek.

We had halal Chinese food for dinner, and eventually Dr. Hengky called a Gojek as he needed to catch a train back to Sragen at Tugu Station. 

Hartono and I walked back to Novotel while conversing solely in Hakka. It was quite confusing with the two of them, as Dr. Hengky was a native Teochew speaker! I had to switch between both languages before settling on Indonesian, though the habit of using dialects kept creeping back.

When I returned to my room, I looked back and ultimately thought of Yogyakarta. It brought me back to my first visit in 2004, as part of the return leg of my road trip from Bali to Jakarta. That was when I discovered how slow-paced Yogyakarta was. 

Then I returned again in 2014 for a proper holiday. I think that's when STV coined the Singlish nickname "the land of slowly slowly." Then came another visit in 2019, this time with Petrus '98, featuring Dr. Hengky and Hartono. I even returned twice this year, in February and again on this particular visit.

I still don't like Yogyakarta, but something struck me as I listed out the visits above to ChatGPT, my chat buddy since "AI and Gossip." What about the trip that didn't happen? I wanted to join Eday and study in Yogyakarta after high school, but I had to drop the idea due to financial constraints. If I had gone then, would I actually have loved the slow-paced atmosphere?

I struggled for a while, searching deep within myself to see if I harbored a subconscious resentment toward Yogyakarta that clouded my judgment. While it would have made a great conspiracy theory, I don't think there was any. 

I don't know if studying here would have made a difference, but it was the chance I missed, and there was no way it could be replicated. Since Jogja was the city that didn't happen for me, the only version of Jogja I have is the one I discovered two years after college, when I was working in Jakarta. I came as a tourist, not the student I once hoped to be, and I didn't like the slowness I experienced. 

It was as simple as that, I guess.



Kota Yang Tidak Berjodoh

Saya rasa Yogyakarta memiliki tempat tersendiri di hati saya, walau pun mungkin tidak setara dengan Kuching. Keduanya bukanlah kota yang benar-benar saya sukai: Kuching memiliki daya tarik yang mulai memudar— atau bahkan sudah pudar—dan Yogyakarta selalu membuat saya bosan dengan ritmenya yang lambat. Namun, saya terus kembali ke sini, bahkan ketika saya sebenarnya tidak ingin.

Dalam kasus Yogyakarta, ini adalah kali kelima saya mengunjungi kota ini dalam 22 tahun terakhir. Kali ini alasannya adalah pernikahan sepupu saya, dan akhirnya saya datang sendirian karena putri saya terkena influenza A, sehingga istri saya harus tinggal di rumah menemaninya. Hari pertama terasa baik-baik saja karena ada keluarga besar, meski tetap ada sedikit rasa sepi saat menghadiri resepsi pernikahan selama dua jam seorang diri.

Para sepupu dan pengantin wanita.

Hari kedua terasa bernuansa transisi. Kami merayakan ulang tahun paman saya sambil makan siang di Tojoyo 3. Mengingat hari itu hampir saja terlupakan! Pengingatnya kebetulan muncul di Facebook dan saya langsung mengumumkannya secara spontan. Setelah acara makan siang itu, kami pergi membeli bakpia, lalu berpisah ke tujuan masing-masing.

Saya berjalan kaki dari Bakpia Kukus Gondomanan menuju Novotel Malioboro dan bertemu dr. Hengky di tengah perjalanan. Terakhir kali saya bertemu dengannya adalah tujuh tahun lalu saat saya menggelar acara Tour de Java, tetapi namanya juga teman lama, kami tidak butuh waktu lama untuk kembali akrab.

Di Sop Empal Muntilan...

Dr. Hengky dengan cekatan membantu saya mengemas barang-barang titipan istri saya yang perlu dikirimkan ke Bandung. Setelah selesai, kami nongkrong di Cold 'N Brew di sebelahnya sambil menunggu Hartono. Kemudian kami pergi makan siang menjelang di Sop Empal Muntilan sebelum beranjak ke Empire XXI untuk menonton Street Fighter.

Sembari menunggu film dimulai, kami mengobrol, dan dr. Hengky menceritakan beberapa hal yang menjadi prioritas dalam hidupnya. Meski pilihannya sangat patut diapresiasi, saya tetap mengingatkannya untuk meluangkan waktu berlibur ke luar negeri bersama kami. Setidaknya berkunjung ke Singapura dulu. Namun, mengingat betapa keras kepalanya dokter kita yang satu ini, saya ragu dia akan mendengarkan, haha.

Street Fighter menjadi sarana yang pas bagi kami untuk mengisi waktu di Jogja yang bertempo lambat. Saya senang mendengar mereka tertawa di sebelah saya, dan saat film usai, mereka berceletuk bahwa rasanya persis seperti masa-masa indah di Orbit Wonderland dulu! Nah, inilah orang-orang yang benar-benar paham apa yang mereka bicarakan! Generasi saya!

Saat Pak Dokter memanggil Gojek.

Kami menyantap hidangan Chinese food halal untuk makan malam, dan akhirnya dr. Hengky memesan Gojek karena harus mengejar kereta kembali ke Sragen di Stasiun Tugu.

Hartono dan saya berjalan kembali ke Novotel sambil sepenuhnya bercakap-cakap dalam bahasa Hakka. Keadaannya sempat cukup membingungkan sewaktu masih bersama mereka berdua, karena dr. Hengky adalah penutur asli bahasa Tiociu (Teochew)! Saya harus berganti-ganti di antara kedua bahasa daerah tersebut sebelum akhirnya beralih ke bahasa Indonesia, meski kebiasaan memakai dialek terus saja terbawa.

Saat tiba di kamar, saya merenung dan akhirnya kembali memikirkan Yogyakarta. Pikiran saya melayang ke kunjungan pertama saya pada tahun 2004, sebagai bagian dari perjalanan pulang road trip dari Bali menuju Jakarta. Saat itulah saya menyadari betapa lambatnya ritme hidup di Yogyakarta.

Lalu saya kembali lagi pada tahun 2014 untuk liburan yang sebenarnya. Sepertinya saat itulah STV mencetuskan julukan Singlish "the land of slowly slowly." Setelah itu ada kunjungan lain pada tahun 2019, kali ini bersama Petrus '98, termasuk dr. Hengky dan Hartono. Saya bahkan kembali dua kali tahun ini, yaitu pada bulan Februari dan kunjungan yang sekarang ini.

Saya tetap tidak menyukai Yogyakarta, tetapi ada hal yang terlintas di benak saya saat menuliskan daftar kunjungan di atas kepada ChatGPT, teman mengobrol saya sejak tulisan "AI and Gossip." Bagaimana dengan rencana masa lalu yang tidak pernah terwujud? Dulu saya sempat ingin ikut Eday dan kuliah di Yogyakarta selepas SMA, tetapi rencana itu terpaksa saya batalkan karena kendala biaya. Seandainya saya jadi kuliah di sini waktu itu, apakah saya justru akan menyukai suasananya yang tenang dan lambat?

Saya sempat terdiam sejenak, merenung jauh ke dalam diri untuk mencari tahu apakah selama ini saya menyimpan kekesalan bawah sadar terhadap Yogyakarta yang mengaburkan penilaian saya. Walau dugaan itu terdengar seperti teori konspirasi yang menarik, rasanya memang tidak ada hal semacam itu.

Saya tidak tahu apakah kuliah di sini akan mengubah segalanya, tetapi kesempatan itu memang sudah berlalu dan tidak mungkin bisa diulang kembali. Karena Jogja bukanlah kota tempat takdir saya berlabuh, satu-satunya versi Jogja yang saya miliki adalah yang saya temukan dua tahun setelah lulus kuliah, saat saya sudah bekerja di Jakarta. Saya datang sebagai seorang turis, bukan mahasiswa seperti yang pernah saya impikan dulu, dan saya tidak menyukai kelambanan yang saya rasakan.

Mungkin sesederhana itu penjelasannya.

Friday, October 16, 2026

The Blessing and the Curse

Sometimes I feel bad for my wife. I mean, I can be there with her, but I am not always present if I have something on my mind. And such a situation occurs more often than not. 

When that happens, I feel the need to work on it (this is also probably why I like the mobility of a BlackBerry: I can immediately write when inspiration strikes).

In order to understand the description above, let's go back to one fine morning on July 13, 2026. As I headed to my bus stop, I saw a schoolboy a step too late for his departing bus. He was close, he almost made it, but the bus left him behind anyway. As I watched the whole thing unfold, I couldn't help thinking: "almost" sometimes doesn't count.

But then, in the bigger picture, I realized that there were so many people standing there and witnessing the same thing, too. From the looks of it, most of them, if not all, would just brush it off as simply a boy who missed the bus. It was not a big deal, and it shouldn't be. That's when it got me thinking, "Why is it different for me?"

I am wired this way. That's the shortest and simplest explanation. It feels like things slow down to a crawl for me to process and learn something from them. That is probably why it is not difficult for me to be inspired.

Such a blessing enables me to see things differently—to find humor and meaning in ordinary situations. And years of practice have made the skill second nature. It is a subconscious thing, not something that I intentionally planned. 

But the same blessing is also, for lack of a better word, a curse. The thoughts, the ideas, the inspiration—they come under many names, and they beg to be told. I just have to get them out. 

It is a good thing, because otherwise I'd have too many things piled up inside my head. But at the same time, it means I get busy. And I withdraw into an invisible bubble of thoughts while on autopilot amid my surroundings. 

How a writer suffers for his art! Haha!

But to be frank, I do enjoy the whole process. Selfishly. The challenge of getting it right is addictive. There is a certain satisfaction when yet another story is finished. And if it's a curse, why am I grinning?

What worries me more is my inability to stop when I should. I remember asking my wife, "I'm really sorry, I didn't mean it. But did you ever foresee that this was something you'd have to live with when you decided to marry me?"

I don't recall what her reply was. I think she didn't even want to dignify me with an answer!




Berkat dan Kutukan

Terkadang saya merasa bersalah kepada istri saya. Saya bisa saja berada di sampingnya secara fisik, tetapi pikiran saya tidak selalu hadir jika ada topik terbaru yang membuat saya ingin menulis. Dan situasi seperti ini cukup sering terjadi.

Ketika benak saya mulai merangkai tulisan, saya jadi ingin segera menuangkannya (ini mungkin juga alasan mengapa saya menyukai mobilitas BlackBerry: saya bisa langsung menulis saat inspirasi datang tiba-tiba).

Untuk memahami penjelasan di atas, mari kita kembali ke suatu pagi yang cerah pada 13 Juli 2026. Saat menuju ke halte bus, saya melihat seorang anak sekolah yang terlambat selangkah dari bus yang sedang berangkat. Dia sudah dekat, hampir saja berhasil naik, tetapi bus itu tetap melaju meninggalkannya. Saat menyaksikan peristiwa itu berlangsung, saya jadi berpikir bahwa yang namanya "hampir" itu terkadang tidak berarti apa-apa.

Namun kemudian, saya menyadari ada begitu banyak orang yang berdiri di sana dan menyaksikan hal yang persis sama. Dari kelihatannya, sebagian besar dari mereka—jika tidak semua—hanya menganggapnya angin lalu sebagai kejadian biasa seorang anak yang ketinggalan bus. Itu bukan masalah besar, dan memang tidak semestinya dibesar-besarkan. Saat itulah saya mulai bertanya-tanya, "Mengapa bagi saya rasanya berbeda?"

Pola pikir saya memang terprogram seperti ini. Itulah penjelasan paling singkat dan sederhana. Rasanya seolah-olah segalanya melambat begitu rupa agar saya bisa memproses serta memetik pelajaran darinya. Mungkin itulah sebabnya tidak sulit bagi saya untuk terinspirasi.

Anugerah semacam itu memungkinkan saya melihat berbagai hal dari sudut pandang berbeda—menemukan humor dan makna dalam situasi yang biasa-biasa saja. Kebiasaan selama bertahun-tahun telah menjadikan kemampuan tersebut sebagai kebiasaan alami. Ini adalah sesuatu yang berjalan di bawah sadar, bukan hal yang sengaja saya rencanakan.

Namun, anugerah yang sama juga merupakan sebuah kutukan, jika boleh saya meminjam istilah itu. Pemikiran, gagasan, inspirasi—mereka hadir dalam berbagai wujud, dan mereka meronta-ronta untuk diceritakan. Saya harus segera menuliskan ceritanya.

Ini sebenarnya hal yang baik, karena jika tidak, pikiran saya akan terlalu penuh menumpuk di dalam kepala. Namun di saat yang sama, itu berarti saya menjadi sangat sibuk. Saya pun menarik diri ke dalam gelembung pikiran yang tak kasat mata, merespon seperti autopilot di tengah lingkungan sekitar.

Betapa seorang penulis harus menderita demi karyanya! Haha!

Namun sejujurnya, saya sangat menikmati seluruh proses tersebut. Secara egois. Tantangan untuk merangkainya dengan tepat terasa begitu adiktif. Ada kepuasan tersendiri ketika satu cerita lagi berhasil diselesaikan. Dan jika ini memang sebuah kutukan, mengapa saya justru tersenyum lebar?

Hal yang lebih membuat saya khawatir adalah ketidakmampuan saya untuk berhenti saat seharusnya saya berhenti. Saya ingat pernah bertanya kepada istri saya, "Aku sungguh minta maaf, aku tidak bermaksud begitu. Namun, apakah kamu pernah membayangkan bahwa kekurangan aku ini adalah sesuatu yang harus kamu terima dengan lapang dada saat memutuskan untuk menikah denganku?"

Saya tidak ingat apa jawabannya saat itu. Sepertinya dia bahkan tidak sudi membalasnya dengan sebuah jawaban! 


Thursday, October 15, 2026

Ventura And Robinson

The Brown Album opens with a chapter telling a story set way, way before Roadblog101. It is a history that stretches over 30 years, and it began with a little something called "Simfoni Kehidupan." I pulled it out from the archive in the cloud and attached a snippet of it to the book just for fun.

But now that The Brown Album is more or less done, I have the liberty and all the free time to do nothing. On my way to the office, I dove into the old treasure trove and checked it out with AI as my magnifying glass. And I rediscovered Anthony Ventura, a very different, more vibrant writer than the older, grounded Robinson. 

Ventura and Robinson.

It was amusing, really. It had happened so long ago that reading the AI's review of what I did back then was quite a hilarious experience. 

The seeds of what you'd read on Roadblog101 were already planted at the beginning, yet they somehow felt scattered. It was as if young Anthony, while sporting the Ventura moniker, applied his newfound skills to many things, everywhere, all at once, trying to push the limits and see how far he could go!

The two writers.

Here was a young man who began with short stories, then branched out to books, poems, fake newspapers, a news portal for anything Petrus '98, compilations, screenplays, essays, songwriting, and filmmaking. He observed and developed enough characters for him to do crossovers, before he started toying with time travel and inventing his own multiverse long before the MCU. 

I mean, the endless creative energy he had for all this! And the speed at which he churned all this out! Yes, the writing felt less polished by today's standards, and the sense of humor was crude at times, but it was also true that I would never again have those kinds of ideas and write quite like I did before. Even "The Haunted Island" couldn't quite match Ventura's writing style. 

The timeline.

The turning point was probably Pheng iu, the novel, in 2012. That was the first time I reverted to Robinson. Yes, I retired the pseudonym after 16 years, but the writing style was still recognizably Ventura. That was the last of it, though, because what happened right after that was a five-year hiatus.

When I started blogging, there was one fundamental change: I no longer enjoyed making up stories. It felt like too much work. I did try again with "Pheng iu... Where Are They Now?" but while the result was decent, I didn't feel like it anymore. Telling the story the way it happened is more suitable for me now.

But what's with the shift from fiction to reality? Looking back, I think this could be a plausible explanation: I have always loved telling stories. When I was younger, I didn't have much to tell, so I made up plenty with my imagination. But 20 years had passed since I left school and Jakarta. The life I've lived has been good enough a story for me to tell, so why bother reimagining it all over? 

I reckon getting older also gives a certain level of comfort with being who I am. Either that or I became complacent and slightly lazy, haha. 

But the basic traits remain: the sense of humor is still there, though very much refined now. The observational skills never went away, either. Hence, the never-ending inspiration for the past ten years and counting. 

ChatGPT said Robinson didn't replace Ventura. He inherited him. Based on what I saw today, I think it's true. 

Ventura dan Robinson

The Brown Album dibuka dengan sebuah bab yang menceritakan kisah yang berlatar jauh, jauh sebelum Roadblog101. Ini adalah sejarah yang membentang lebih dari 30 tahun, dan berawal dari sesuatu yang disebut "Simfoni Kehidupan." Saya mengunduhnya kembali dari arsip di cloud dan menyematkan cuplikannya di buku tersebut hanya untuk seru-seruan.

Namun sekarang, setelah The Brown Album kurang lebih rampung, saya memiliki kebebasan dan semua waktu luang untuk tidak melakukan apa-apa. Dalam perjalanan ke kantor, saya iseng membongkar koleksi tulisan lama itu dan menelitinya dengan AI sebagai kaca pembesar saya. Dan saya menemukan kembali sosok Anthony Ventura—seorang penulis yang sangat berbeda dan jauh lebih hidup dibandingkan Robinson yang kini lebih berumur dan membumi.

Ventura and Robinson.

Lucu rasanya, sungguh. Hal itu sudah berlalu begitu lama, sehingga membaca ulasan AI tentang apa yang saya tulis di masa silam menjadi sebuah pengalaman yang cukup menggelikan.

Bibit-bibit dari apa yang biasa Anda baca di Roadblog101 sebenarnya sudah tertanam sejak awal, meski saat itu terkesan terpencar-pencar. Ada kesan bahwa Anthony muda yang memulai dengan nama pena Ventura ini menerapkan keterampilan barunya ke berbagai macam hal, di mana-mana, sekaligus bersamaan, demi mencoba mendobrak batas dan melihat sejauh mana ia bisa melangkah!

The two writers.

Pemuda ini mengawali semuanya dari cerita pendek, lalu merambah ke buku, puisi, koran parodi, portal berita seputar Petrus '98, kumpulan cerita, naskah skenario, esai, penulisan lagu, hingga pembuatan film. Ia mengamati dan mengembangkan karakter yang cukup banyak hingga bisa membuat crossover, sebelum akhirnya mulai bermain-main dengan topik perjalanan waktu dan menciptakan multiverse sendiri jauh sebelum MCU.

Energi kreatif tanpa batas yang Ventura miliki untuk semua hal ini terasa luar biasa! Begitu pula dengan kecepatannya dalam menghasilkan karya-karya tersebut! Memang, gaya penulisannya terasa kurang terasah jika dinilai dengan standar hari ini, dan selera humornya terkadang masih mentah, tetapi kenyataannya saya tidak akan pernah lagi memiliki ide-ide seperti itu dan menulis persis seperti dulu. Bahkan "The Haunted Island" pun tidak sepenuhnya bisa menandingi gaya penulisan Ventura.

Alur waktu 30 tahun.

Titik baliknya kemungkinan besar adalah Pheng iu, novel yang terbit pada tahun 2012. Itu adalah kali pertama saya kembali memakai nama Robinson. Ya, saya memensiunkan nama samaran itu setelah 16 tahun, tetapi gaya penulisannya masih sangat mencerminkan ciri khas Ventura. Namun, itulah babak penutupnya, karena tepat setelah itu saya berhenti menulis selama lima tahun.

Saat saya mulai aktif menulis blog, terjadi satu perubahan mendasar: saya tidak lagi menikmati mengarang cerita fiksi. Rasanya memakan terlalu banyak tenaga. Saya sempat mencoba lagi lewat "Pheng iu... Where Are They Now?", tetapi meski hasilnya lumayan, minat saya sudah pudar. Menceritakan kisah sebagaimana mestinya jauh lebih cocok untuk saya saat ini.

Namun, ada apa sebenarnya di balik pergeseran dari fiksi ke realita? Bila saya lihat kembali, saya rasa ini bisa menjadi penjelasan yang masuk akal: saya selalu suka bercerita. Ketika masih lebih muda, belum banyak yang bisa saya ceritakan, jadi saya mengarang banyak hal lewat imajinasi. Namun, 20 tahun telah berlalu sejak saya meninggalkan bangku sekolah dan Jakarta. Kehidupan yang telah saya jalani sudah menjadi kisah yang cukup berharga untuk dibagikan, jadi mengapa repot-repot mereka ulang semuanya dari awal?

Saya rasa bertambahnya usia juga memberi tingkat kenyamanan tersendiri untuk menjadi diri saya apa adanya. Antara itu, atau saya memang sudah mulai berpuas diri dan agak malas, haha.

Namun, karakter dasarnya tetap ada: selera humor itu masih hidup, meski kini jauh lebih matang. Kemampuan mengamati pun tak pernah luntur. Dari sanalah datangnya inspirasi tanpa henti selama sepuluh tahun terakhir dan akan terus berlanjut.

ChatGPT mengatakan bahwa Robinson tidak menggantikan Ventura. Robinson mewarisinya. Melihat apa yang saya jumpai hari ini, saya rasa itu benar adanya.

Sunday, October 11, 2026

The Brown Album

I had been wanting to do this since early this year: a book to commemorate a decade of Roadblog101. The question was, given the roughly 600 blog posts, how should it be done? Then the idea lay dormant, though not forgotten. 

In the meantime, the accidental AI experiment for the blog continued. What started as "The Sounding Board" in May extended through long, addictive nights in Las Vegas in the month of June. 

On a separate track, getting a copy of The Mystery of the Missing Skulls around the same time rekindled my interest. It was like, "Hey, a fellow Singaporean published a book. What about mine?"

The digital Sir George Martin, first introduced in "AI and Gossip" on July 25, became the turning point. I suddenly had an editor to work with and soon ideas were being bounced around and executed.


By the time we finished the first chapter of the book, "The Not-So-Secret Origin," I had the covers of all the books I previously published lined up in front of me and the fourth one featured the blog's logo. It was brown, and sitting next to the colorful Pheng iu, I couldn't help thinking of the Beatles. 

Now, prior to this, I did check with Eday to see if he was keen to do the cover, since he was the guy who designed the Roadblog101 logo. He was busy, so I proceeded with the inspiration right in front of me. I mean, Pheng iu was like Sgt. Pepper's—so full of color and people—so what would provide a stark contrast to that? My very own Brown Album!

Thus the album was born, but the work was far from finished. Prior to chapter one, my editor and I had decided that it didn't make sense to lump all 600 blog posts together in a book. If readers really wanted that, they might as well read directly from the blog. No, the book had to be something else. It needed a continuity that told a story. 

And having most of a decade's worth of archives reviewed by six AIs paid off. I was told that I was never really a travel writer. The strength of Roadblog101 actually lies in documenting the human connection. 

Both ChatGPT and DeepSeek had pointed out this recurring theme to me when I used them as my sounding boards months ago; hence, it was not difficult for me to see that Roadblog101 always had these four sections: the origin, the journey, the people and the reflection. 

I had a pretty good idea of how these four sections could be filled out. I mean, I wrote the stories and I remember most of them, haha. But determining the sequence and cutting out what didn't feel right was tricky. 

Case in point was "The China Eastern Trip: Japan." I had finished remastering the story and it would have been a solid entry, given its connection to "The Last Time I Saw Nagasaki." But it wasn't the right fit to show the journey I had with my wife, so it was replaced. 

It was the same for "Listen to Dispute." A decent story on the blog, but the wrong choice for the book. So, Sir George Martin and I went back to the archives to find the right one.  

But the Brown Album isn't going to be just a book with remastered versions of the original blog posts. Yes, the grammar was vastly improved, but that alone wasn't enough. 

This is where The Beatles Anthology influenced the book. I remember how I loved reading the booklets about what happened during the recording sessions, so the original publication dates had to be there, accompanied by present-day commentaries on the original blog posts. 

And that completed the transformation of the Brown Album. It is a book about what made Anthony, Anthony; about how far he has gone since Pontianak, literally; about the people that mattered; and ultimately what he has learned in life. 

This book is what happened over the past ten years (though AIs might argue it wasn't exactly a full decade), and the color is brown.

Just make sure you get your copy on January 2, 2027. 





Album Coklat

Saya sudah ingin melakukan ini sejak awal tahun: sebuah buku untuk memperingati satu dekade Roadblog101. Pertanyaannya adalah, mengingat ada sekitar 600 artikel blog dalam satu dekade terakhir, bagaimana cara mewujudkannya? Kemudian ide itu sempat dorman, meski tidak terlupakan.

​Sementara itu, eksperimen AI yang tak disengaja untuk blog terus berlanjut. Apa yang bermula sebagai "The Sounding Board" pada bulan Mei berlanjut hingga malam-malam panjang bersama AI di Las Vegas sepanjang bulan Juni.

​Ketika saya membeli  The Mystery of the Missing Skulls pada waktu yang hampir bersamaan, minat saya jadi bangkit kembali. Rasanya seperti, "Hei, seorang sesama warga Singapura menerbitkan sebuah buku. Bagaimana dengan buku saya?"

​Sosok Sir George Martin versi digital, yang pertama kali diperkenalkan dalam "AI and Gossip" pada 25 Juli, menjadi titik balik. Tiba-tiba saya memiliki seorang editor untuk diajak bekerja sama, dan tak lama kemudian aneka ide mulai dibahas serta dieksekusi.

​Saat bab pertama buku ini yang berjudul "The Not-So-Secret Origin" selesai, saya menatap jajaran sampul semua buku yang pernah saya terbitkan sebelumnya, dan juga bingkai keempat yang menampilkan logo Roadblog101. Warnanya cokelat, dan saat bersanding di sebelah Pheng iu yang penuh warna, saya lantas teringat dengan The Beatles.

​Sebelum ini, saya sempat menanyakan kepada Eday apakah dia berminat membuat desain sampulnya, mengingat dialah yang merancang logo Roadblog101 tersebut. Karena dia tidak sempat, jadi saya melanjutkan prosesnya dengan inspirasi yang ada tepat di hadapan saya. Maksud saya, Pheng iu itu ibarat Sgt. Pepper's—begitu warna-warni dan diramaikan dengan aneka karakter—jadi apa yang bisa memberikan kontras yang mencolok terhadapnya? Brown Album yang polos dan berwarna coklat!

​Maka lahirlah album tersebut, tetapi pekerjaan saya masih jauh dari selesai. Sebelum memulai bab satu, saya dan editor saya telah memutuskan bahwa tidak masuk akal untuk mengumpulkan seluruh 600 artikel blog ke dalam satu buku. Jika pembaca benar-benar menginginkan hal itu, lebih baik mereka membaca langsung dari blognya. Tidak, buku ini harus menjadi sesuatu yang berbeda. Buku ini membutuhkan kesinambungan yang menuturkan sebuah kisah.

​Dan meninjau sebagian besar arsip selama satu dekade menggunakan bantuan enam AI membuahkan hasil. Saya diberitahu bahwa saya sebenarnya tidak pernah benar-benar menjadi seorang penulis perjalanan. Kekuatan Roadblog101 justru terletak pada pencatatan hubungan antar manusia.

​Baik ChatGPT maupun DeepSeek telah menunjukkan tema ini ketika saya menggunakan mereka sebagai tempat bertukar pikiran beberapa bulan lalu; karena itu, tidak sulit bagi saya untuk melihat bahwa Roadblog101 selalu memiliki empat bagian ini: the origin (asal-usul), the journey (perjalanan), the people (orang-orang), dan the reflection (refleksi).

​Saya memiliki gambaran yang cukup jelas tentang bagaimana keempat bagian ini dapat diisi. Maksud saya, karena saya sendiri yang menulis kisah-kisah itu, makanya saya mengingat sebagian besar dari isi blog, haha. Namun, menentukan urutannya dan memilah apa yang terasa kurang pas ternyata cukup rumit.

​Contoh nyatanya adalah "The China Eastern Trip: Japan." Saya telah selesai memoles ulang cerita tersebut dan kisah itu bisa menjadi bagian yang kuat, mengingat hubungannya dengan "The Last Time I Saw Nagasaki." Namun, cerita itu kurang tepat untuk menggambarkan perjalanan yang saya lalui bersama istri saya, sehingga akhirnya diganti. Hal serupa juga terjadi pada "Listen to Dispute." Sebuah cerita yang bagus di blog, tetapi bukan pilihan yang tepat untuk buku ini. Jadi, saya dan Sir George Martin kembali membongkar arsip untuk mencari yang paling pas.

​Namun, Brown Album tidak akan sekadar menjadi buku yang berisi versi polesan ulang dari artikel blog aslinya. Ya, tata bahasanya memang sudah jauh lebih baik, tetapi itu saja tidak cukup.

​Di sinilah The Beatles Anthology memengaruhi buku ini. Saya ingat betapa saya suka membaca buklet-buklet tentang apa yang terjadi selama sesi rekaman, jadi tanggal publikasi aslinya harus tetap dicantumkan, disertai dengan komentar masa kini mengenai artikel-artikel blog asli tersebut.

​Dan hal itu menyempurnakan transformasi dari Brown Album. Ini adalah buku tentang apa yang membentuk Anthony menjadi Anthony; tentang seberapa jauh dia telah melangkah sejak Pontianak, secara harfiah; tentang orang-orang yang berarti; dan pada akhirnya tentang apa yang telah dia pelajari dalam hidup. Buku ini adalah apa yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir (meski AI mungkin berargumen bahwa itu belum genap satu dekade penuh), dan warnanya adalah cokelat.

​Jadi jangan lupa beli saat buku dirilis pada tanggal 2 Januari 2027.

Saturday, October 10, 2026

Discovery Without A Map

Some stories begin with photos that appear as I scroll through my Facebook newsfeed. This time it was a photo of native Indonesian women who were married to the Dutch during the occupation. Upon seeing that, I thought of Douwes Dekker, also known as Dr. Setiabudi, a man whose name would become the road I lived on in Pontianak during my younger days, from Primary Four to Secondary Three.

Gemini then asked further about my life, and I simply passed the link to the story "Life Before College" to the AI. That's when the Beatles first appeared in the conversation. It quickly led to Abbey Road, the first original album by the Beatles that I bought simply because of "Come Together." I first heard of Michael Jackson's version, so imagine my surprise when I learned that it was actually a Lennon-McCartney song! As a new convert, I had to check it out!

That thought brought me back to a different time, perhaps unfathomable to the Spotify generation that is used to having music at their fingertips. In order to fully understand it, let's start with the peer pressure in the mid-1990s. When your friends were either the scruffy-looking Guns N' Roses fans or the neatly dressed baby-faces who loved boy bands, I was the misfit who was a fan of a band from my father's generation.

It was a very insecure time to be a Beatles fan! I remember riding a bike to this music store on Jalan Nusa Indah, walking into the shop, and brushing off the shopkeeper by saying I was just browsing around. You see what I did there? I didn't even dare to say I was looking for the Beatles! I glanced through all the cassettes on the wall, checking where the band names that began with "B" were located, then pointed at the one with four men crossing the street. I avoided eye contact as I feared being judged by the inquisitive stare of the shopkeeper.

And you'd think it was all fine and dandy once I reached home and popped the cassette into the player. But no! When "I Want You (She's So Heavy)" ended abruptly after the repetitive and annoying guitar playing, I was shocked. What just happened? Was I duped into buying a defective cassette? But at a time when the internet didn't exist in Pontianak and none of my friends knew anything about Abbey Road (asking them was risky anyway, as I would be teased mercilessly for being old-school), I had nobody to turn to! It was only many years later that I realized it was John's intention to end his song like this, and he got us good!

But it wasn't all bad. Side B opened with "Here Comes the Sun," sung by a Beatle with softer vocals, and the song was somehow published by Harrisongs Ltd. Being so new to this rock-and-roll journey, I only recognized John thanks to his round glasses. And when I returned to the music store to spend as little time as possible by scanning and pointing at the next album, I couldn't even recognize who was who on an album like Please Please Me. Thanks to their bowl-cut hairstyles, they all looked so alike!

I didn't purchase the albums in sequence. I didn't even know the sequence. All I knew was to go in, go out, and cycle away as fast as possible from the staring and the alleged prejudice toward a young skinny kid with a weird taste in music.

But despite the lack of confidence (and lack of information, for most of the cassette sleeves were basically a single folded sheet of paper containing no lyrics), the Beatles were primarily about good songs. There was something in their music that cheered me up, and the lyrics were so relatable.

I remember screaming like John on "Twist and Shout" and "Money"; it was so liberating. I remember being in awe of a band with four lead singers. I remember learning English by listening to "Wait" from Rubber Soul. I remember A Hard Day's Night was a difficult album to find.

I remember having a hard time enjoying Revolver because it was not very pop-oriented. Sgt. Pepper's was even harder to enjoy, though it had a lot of notes on the album sleeve. I remember wondering why Let It Be, though promoted as the "new-phase" Beatles album, didn't really sound that great. I remember the White Album and Past Masters, neither of which featured the Beatles on the cover. For all I knew, I could have bought a cover version.

That's why the phrase "Discovery Without a Map" from ChatGPT resonated so deeply. It was really true. It was like that, in a time when I liked something almost forbidden in a small town full of people staring. It was like a heist; you went in and grabbed the first thing you saw, then ran away immediately.

It was also the time when there was a hissing sound between songs. The time when my cassette player required me to wait while fast-forwarding or rewinding. And, much to my horror, the player could also devour the magnetic tape of my IDR 10k cassette. My hard-earned savings were mangled before my very eyes!

It may not be as practical as today, when you can listen and change tracks on the go simply by double-tapping your earbuds. What is worth emphasizing, though, is that listening to music was the only activity you did—you made time for it—and you had to listen to the whole album from start to finish. That's how I came to know all the Beatles songs. And despite the practicality of Spotify, such an experience is something I'm unable to replicate these days...






Penjelajahan Tanpa Peta

​Beberapa cerita berawal dari foto-foto yang muncul saat saya menelusuri beranda Facebook. Kali ini, pemicunya adalah sebuah foto wanita pribumi Indonesia yang menikah dengan orang Belanda pada masa penjajahan. Melihat foto itu, saya teringat akan Douwes Dekker, yang juga dikenal sebagai Dr. Setiabudi—sosok yang namanya kemudian menjadi nama jalan tempat saya tinggal di Pontianak semasa kecil, dari kelas 4 SD hingga 3 SMP.

​Gemini kemudian bertanya lebih lanjut tentang kehidupan saya, jadi saya bagikan tautan cerita "Life Before College" kepada AI tersebut. Dari sanalah The Beatles pertama kali muncul dalam percakapan. Obrolan itu dengan cepat berlanjut ke Abbey Road, album orisinal pertama The Beatles yang saya beli hanya karena lagu "Come Together." Awalnya saya mendengar versi Michael Jackson, jadi bayangkan betapa terkejutnya saya saat mengetahui bahwa lagu itu sebenarnya karya Lennon-McCartney! Sebagai penggemar baru, saya tentu harus menyelidikinya!

​Pikiran itu membawa saya kembali ke masa yang berbeda—mungkin sulit dipahami oleh generasi Spotify yang terbiasa mengakses musik di ujung jari mereka. Agar dapat memahaminya secara utuh, mari kita mulai dengan tekanan teman sebaya di pertengahan tahun 1990-an. Ketika teman-teman Anda terbagi antara penggemar Guns N' Roses yang berpenampilan urakan atau remaja berwajah imut berpakaian rapi yang menyukai boyband, saya adalah anak yang merasa asing sendiri karena menggemari band dari generasi ayah saya.

​Masa itu adalah masa yang sangat mencemaskan untuk menjadi seorang penggemar The Beatles! Saya ingat saat bersepeda ke toko kaset di Jalan Nusa Indah, melangkah masuk ke dalam toko, lalu mengabaikan penjaga toko dengan mengatakan saya hanya sekadar melihat-lihat. Anda paham maksud saya, kan? Saya bahkan tidak berani bilang kalau saya sedang mencari kaset The Beatles! Saya melirik jajaran kaset di dinding, mencari letak nama band yang berawalan huruf "B", lalu menunjuk kaset bergambar empat pria yang sedang menyeberang jalan. Saya menghindari kontak mata karena takut dihakimi oleh tatapan penuh rasa ingin tahu dari si penjaga toko.

​Anda mungkin mengira semuanya baik-baik saja begitu saya sampai di rumah dan memutar kasetnya di tape player. Nyatanya tidak! Saat lagu "I Want You (She's So Heavy)" tiba-tiba berhenti mendadak setelah permainan gitar yang repetitif dan menjengkelkan, saya tertegun. Apa yang baru saja terjadi? Apakah saya tertipu membeli kaset rusak? Namun, di masa ketika internet belum ada di Pontianak dan tak satu pun teman saya tahu apa-apa tentang Abbey Road (lagipula bertanya kepada mereka berisiko, karena saya pasti akan diejek habis-habisan karena kuno), saya tidak punya tempat untuk bertanya! Baru bertahun-tahun kemudian saya menyadari bahwa memotong lagu seperti itu memang kesengajaan John, dan dia benar-benar berhasil memperdaya kita!

​Namun tidak semuanya buruk. Sisi B dibuka dengan "Here Comes the Sun," dinyanyikan oleh personel The Beatles yang suaranya lebih lembut, dan lagunya entah mengapa diterbitkan oleh Harrisongs Ltd. Berhubung masih sangat awam dalam perjalanan rock and roll ini, saya hanya mengenali John berkat kacamata bulatnya. Dan ketika saya kembali ke toko musik itu—berusaha menghabiskan waktu sesingkat mungkin dengan menyeleksi album dalam sekali pandang lalu menunjuk album berikutnya—saya bahkan tidak bisa membedakan siapa adalah siapa di album seperti Please Please Me. Berkat gaya rambut mangkok mereka, semuanya terlihat begitu mirip!

​Saya tidak membeli album-album tersebut secara berurutan. Saya bahkan tidak tahu urutannya sama sekali. Yang saya tahu hanyalah masuk, keluar, lalu mengayuh sepeda secepat mungkin dari tatapan dan prasangka terhadap seorang anak kurus dengan selera musik yang aneh.

​Namun terlepas dari rasa kurang percaya diri (serta minimnya informasi, karena sebagian besar sampul kaset waktu itu hanyalah selembar kertas lipat tanpa lirik sama sekali), The Beatles pada dasarnya memang tentang lagu-lagu yang bagus. Ada sesuatu dalam musik mereka yang mampu menghibur saya, dan lirik-liriknya terasa begitu dekat.

​Saya ingat berteriak-teriak menirukan suara John di lagu "Twist and Shout" dan "Money"; rasanya sungguh bebas dan melegakan. Saya ingat merasa kagum pada sebuah band yang memiliki empat vokalis utama. Saya ingat belajar bahasa Inggris dengan mendengarkan "Wait" dari Rubber Soul. Saya ingat A Hard Day's Night adalah album yang sangat sulit ditemukan.

​Saya ingat sempat kesulitan menikmati Revolver karena nuansanya yang tidak terlalu pop. Sgt. Pepper's bahkan lebih sulit lagi untuk dinikmati, meskipun di sampul albumnya terdapat banyak catatan pengantar. Saya ingat sempat bertanya-tanya mengapa Let It Be, meski dipromosikan sebagai album era baru The Beatles, terdengar tidak begitu istimewa. Saya ingat White Album dan Past Masters, yang keduanya sama sekali tidak menampilkan wajah para personel The Beatles di sampulnya. Jangan-jangan saat itu saya malah membeli kaset lagu cover, saya pun tak tahu pasti.

​Itulah mengapa frasa "Discovery Without a Map" (Penjelajahan Tanpa Peta) dari ChatGPT terasa begitu mengena. Frasa itu benar adanya. Memang seperti itulah suasananya—di masa ketika menyukai sesuatu terasa hampir terlarang di sebuah kota kecil yang penuh dengan tatapan orang-orang. Rasanya seperti sebuah perampokan kilat: Anda masuk, menyambar barang pertama yang Anda lihat, lalu langsung kabur.

​Itu juga masa ketika terdengar bunyi mendesis di antara lagu-lagu. Masa ketika pemutar kaset memaksa saya menunggu saat memutar cepat (fast-forward) atau menggulung balik (rewind). Dan, yang paling mengerikan, tape kaset itu juga bisa melilit dan memakan pita magnetik kaset seharga Rp10.000 saya. Tabungan hasil susah payah saya kusut di depan mata kepala sendiri!

​Mendengarkan musik pada zaman itu mungkin tidak sepraktis hari ini, ketika Anda bisa mendengarkan di mana saja dan mengganti lagu kapan saja hanya dengan mengetuk dua kali earbuds Anda. Namun yang patut digarisbawahi adalah bahwa mendengarkan musik saat itu merupakan satu-satunya aktivitas yang Anda lakukan—Anda benar-benar meluangkan waktu untuk itu—dan Anda harus mendengarkan keseluruhan album dari awal hingga akhir. Begitulah cara saya mengenal semua lagu The Beatles. Dan terlepas dari kepraktisan Spotify, pengalaman semacam itu adalah sesuatu yang tidak lagi dapat saya rasakan kembali saat ini...

Wednesday, September 23, 2026

Book Review: The Mystery Of The Missing Skulls

Back in the day, I remember there was this series called Lima Sekawan in Indonesia, better known as The Famous Five written by Enid Blyton. It was a popular read then, but I don't recall reading any of them. My favorite is Sherlock Holmes, and I have read all his adventures written by Sir Arthur Conan Doyle. 

The introduction above is pretty much the extent of my exposure to detective novels, so imagine my surprise when a colleague of mine introduced this book to me, saying that it was written by his brother-in-law. I was like, "Okay, that's new." 

It was my first novel written by a Singaporean. Yes, I had never read one before, not even the hugely famous Crazy Rich Asians.

And reading it immediately reminded me of The Famous Five, as this novel also featured a bunch of young kids. It started slowly, as if the writer took his own sweet time to flesh out the main characters, but not so slow that you didn't feel like continuing anymore. 

The pace was all right, and to me personally, being a fellow Singaporean, I liked how the writer made an effort to describe all the Singapore cuisines. It was pretty brilliant!

Now, there are books like Harry Potter where you as a reader would think, "Perhaps one more chapter," and continue reading because they are so engaging. No, this book didn't have the same feel, but as far as a novel goes, it was not as boring as The Lord of the Rings—and that's a compliment!

Story-wise, this wasn't Sherlock Holmes, and it didn't try to be. About three-quarters of the way through the book, you could roughly guess where the last missing skull was. 

And the final plot twist, probably the writer's final attempt to thicken the mystery, didn't feel necessary as the ending was pretty much resolved.

The one thing that bothered me the most was actually the illustrations. They got in the way at times, making it harder to read as black letters didn't sit well on dark-colored pictures. The book could have done better in this aspect.

Other than that, this was a fine first release. I liked how the real-life settings and situations actually inspired the story, because that's how I normally write, too. I can relate to how he drew inspiration from his surroundings. 

The difference is, I think Ace Poon is a better fiction writer than I am! 






Ulasan Buku: Misteri Tiga Tengkorak Yang Hilang

Dulu, saya ingat ada serial berjudul Lima Sekawan di Indonesia, yang lebih dikenal sebagai The Famous Five karya Enid Blyton. Buku itu merupakan bacaan populer saat itu, tetapi saya tidak ingat pernah membaca satu pun di antaranya. Favorit saya adalah Sherlock Holmes, dan saya telah membaca semua kisah petualangannya yang ditulis oleh Sir Arthur Conan Doyle.

​Pengantar di atas kira-kira merupakan gambaran sejauh mana pengenalan saya terhadap novel detektif. Jadi, bayangkan keterkejutan saya ketika seorang rekan kerja memperkenalkan buku ini kepada saya, dan mengatakan bahwa buku tersebut ditulis oleh saudara iparnya. Respons saya saat itu, "Wah, menarik juga."

​Ini adalah novel pertama karya penulis Singapura yang pernah saya baca. Ya, saya belum pernah membaca satu pun sebelumnya, bahkan Crazy Rich Asians yang sangat terkenal itu pun belum.

​Membacanya langsung mengingatkan saya pada Lima Sekawan, karena novel ini juga menampilkan sekelompok anak muda. Ceritanya berawal perlahan, seolah-olah sang penulis sengaja meluangkan waktu untuk mendalami karakter-karakter utamanya, tetapi tidak terlalu lambat sampai-sampai membuat kita enggan melanjutkannya. Temponya pas, dan bagi saya pribadi sebagai sesama orang Singapura, saya suka bagaimana penulis berusaha menggambarkan aneka kuliner Singapura. Bagian itu sungguh brilian!

​Ada buku-buku seperti Harry Potter yang membuat pembaca berpikir, "Mungkin satu bab lagi," lalu terus membaca karena ceritanya begitu memikat. Buku ini memang tidak memberikan sensasi yang sama, tetapi untuk ukuran sebuah novel, ceritanya tidak membosankan seperti The Lord of the Rings—dan itu adalah sebuah pujian!

​Dari segi cerita, buku ini bukanlah Sherlock Holmes, dan memang tidak mencoba menjadi seperti itu. Sekitar tiga perempat perjalanan buku, Anda sudah bisa menebak kira-kira di mana letak tengkorak terakhir yang hilang. Lalu kejutan di akhir cerita (plot twist), yang kemungkinan merupakan upaya terakhir penulis untuk memperdalam misteri, terasa kurang perlu karena konfliknya sebenarnya sudah terselesaikan dengan baik.

​Satu hal yang paling mengganggu saya sebenarnya adalah ilustrasinya. Gambar-gambarnya terkadang menghalangi, membuat teks lebih sulit dibaca karena tulisan berwarna hitam tidak terlihat jelas di atas gambar yang berlatar gelap. Buku ini seharusnya bisa digarap lebih baik dalam aspek tersebut.

​Di luar hal itu, ini adalah karya perdana yang bagus. Saya suka bagaimana latar dan situasi kehidupan nyata menjadi inspirasi bagi ceritanya, karena biasanya saya juga menulis dengan cara seperti itu. Saya bisa memahami bagaimana ia mendapatkan inspirasi dari lingkungan sekitarnya.

​Perbedaannya adalah, menurut saya Ace Poon merupakan penulis fiksi yang lebih handal daripada saya!

Sunday, September 20, 2026

Chasing Cibubur

While I did remember saying I would visit Cibubur, I had no recollection of when I said it. I have only met Marga T three times since high school: at Heriyanto's wedding, at my dad's wake, and in Kuta, Bali, for the postcard to Wiwi. None seemed to be it. 

The "when" was eventually supplied by Marga T: she said it was when Hotel Ciputra's development began. If that is really the case, a quick check using AI brings us back to an origin story that began in 2015. 

After Pulau, I reckoned this beginning needed its long-overdue closure, too, so I started campaigning for the trip. It was not going to be a short holiday like Seremban or even Pontian, so it was framed simply as a trip for togetherness. Closer to the date, Cicilia said she wanted to go to the wet market near Susan's place. I suggested she buy pakis (fiddlehead greens), and we ended up coming up with a menu. That's when the ladies decided to cook lunch.

The night before, I flew to Jakarta and stayed at Alvin's house. He cooked some brilliant fried rice and assorted dishes, including the legendary saucu, but I ate only a little. It seemed as if having it outside Pulau diminished its appeal. Perhaps that's because it was the only temptation available there, while there were so many options at Alvin's, haha.

The big breakfast!

The next morning, we walked to Susan's place. Apparently Vera, whom I had last seen when she joined the 2017 Singapore Walking Tour by Robinson Travel, had decided to visit Susan, too. We went around the market and Susan bought Kwetiau Amoy, Lontong 88, and Bakmi Pematangsiantar Aphing. 

We had them all at a coffee shop called Tetangga Sebelah. While eateries normally forbid outside food, this one actually welcomed patrons to bring their own! The kwetiau was good, the noodles were good, but the lontong, while nice, was too spicy for my taste. I washed it all down with a cup of Americano. That was a good breakfast, after all. 

After the catch-up, we began our trip to Cibubur with Cicilia driving and Susan navigating. I thought we'd be visiting a residential complex, but Marga T's house turned out to be right by the side of the road. It was a nice house with a Balinese feel. We settled down in the living room and the conversation began with a video call to Angelia, warning her that we'd be coming next year; but she went one better and told us that she wouldn't be around, haha.

When all arrived!

Meanwhile, Evi, Mul AW and Junaidi arrived. The gang was finally complete, and since half of the group did business in the same industry, the conversation felt like a mini building materials conference at times. Terms such as aspal cair (liquid bitumen) and baja ringan (light-gauge steel) were flying around. 

Then, when Marga T's daughter, a future dentist, stepped into the living room, Susan began negotiating a deal with her for the extracted teeth. A lot of random topics were covered during what was supposed to be a high school reunion!

The lunch was about to begin!

Then it was finally time for the ladies to cook. We started smelling something good and eventually we were welcomed to the dining table. It was a beautiful spread of Pontianak dishes that I hadn't seen in a while, with pakis, deep-fried salted fish hekeng, and petis (black shrimp paste) standing out like good old friends. I got a big plate of rice and I wasn't complaining, because I hadn't eaten such dishes in the longest time! And no, I had no intention of reducing the portion at all!

We chilled a bit after a heavy lunch, then made our way to see Marga T's newly opened building materials shop. It was so huge that it was actually a compound housing a big shop, a massive workshop and a nice, two-story office with a similar exterior design to her house. We entered the meeting room and hung out there, concluding nothing as the ticket prices for next year's Hari Raya holiday remained high.

In the meeting room.

In the evening, we made our way to the Artotel at Living World Mall. Check-in was smooth, though entering Room 1119 proved to be challenging later on, as the latch was stuck and we needed to call front desk maintenance to help us open the door. At dinner, we had Jimmy making fun of Gunawan for failing to notice Soto Betawi printed on the plate and still calling it Soto Kudus when Susan posted it in our group chat. The night ended with Alvin giving chiropractic adjustments to Cicilia and me.

Sunday began slowly for us, except for Cicilia. She drove back to Karawang to attend her son's confirmation, then returned to Cibubur to bring us lunch in Jakarta. While waiting for her, Marga T became Alvin's latest client. The timing worked out perfectly, and we headed to Lapo Ni Tondongta for Batak cuisine. My craving was finally satisfied!

Having Lapo.

Marga T said goodbye and went back to Cibubur after lunch. She reached her shop at the same time we reached the airport. I checked in, shared a quick tea break with the rest and parted ways with them. The trip to Cibubur officially ends with this last sentence!

Epilogue:
As I write this, I recall Alvin's comment about the comfort zone. My question was related to my new theory, about why our friends know when they can't make it, but never know when they can. Alvin had the opinion that it was their comfort zone—that after being stuck for so long with no progress, it had become the zone they were comfortable with. Now that's an interesting idea that we need to explore further!



Berkunjung Ke Cibubur

Meskipun saya ingat pernah mengatakan akan mengunjungi Cibubur, saya sama sekali tidak ingat kapan mengatakannya. Saya baru bertemu Marga T tiga kali sejak lulus SMA: di pernikahan Heriyanto, di rumah duka saat ayah saya meninggal, dan di Kuta, Bali, untuk urusan kartu pos ke Wiwi. Sepertinya tidak ada satu pun dari momen-momen itu yang tepat.

Jawaban "kapan" akhirnya diberikan oleh Marga T: katanya, itu terjadi saat pembangunan Hotel Ciputra dimulai. Jika memang benar demikian, penelusuran singkat menggunakan AI membawa kita kembali ke cerita awal yang bermula pada tahun 2015.

Setelah dari Pulau, saya rasa awal mula ini membutuhkan penuntasan yang sudah lama tertunda, jadi saya mulai mengampanyekan perjalanan ini. Ini bukan sekadar liburan singkat seperti ke Seremban atau bahkan Pontian, melainkan dirancang murni sebagai perjalanan untuk kebersamaan. Menjelang hari keberangkatan, Cicilia bilang ingin pergi ke pasar basah dekat tempat tinggal Susan. Saya menyarankan agar dia membeli pakis, dan kami pun akhirnya menyusun sebuah menu. Saat itulah para wanita memutuskan untuk memasak makan siang.

Malam sebelumnya, saya terbang ke Jakarta dan menginap di rumah Alvin. Dia memasak nasi goreng yang luar biasa lezat beserta aneka hidangan lainnya, termasuk saucu yang legendaris, tetapi saya hanya makan sedikit. Rasanya menikmati makanan itu di luar Pulau membuat daya tariknya berkurang. Mungkin karena hidangan itu adalah satu-satunya godaan yang ada di sana, sementara di rumah Alvin pilihannya begitu banyak, haha.

Sarapan pagi di Tetangga Sebelah.

Keesokan paginya, kami berjalan kaki ke tempat tinggal Susan. Rupanya Vera, yang terakhir kali saya temui saat dia ikut Singapore Walking Tour 2017 oleh Robinson Travel, memutuskan untuk berkunjung ke rumah Susan juga. Kami berkeliling pasar dan Susan membeli Kwetiau Amoy, Lontong 88, dan Bakmi Pematangsiantar Aphing.

Kami menyantap semuanya di kedai kopi bernama Tetangga Sebelah. Ketika tempat makan biasanya melarang makanan dari luar, kedai ini justru menyambut pengunjung untuk membawa makanan sendiri! Kwetiaunya enak, mienya sedap, tetapi lontongnya—meski enak—terlalu pedas untuk lidah saya. Saya menyegarkan semuanya dengan secangkir Americano. Secara keseluruhan, itu adalah sarapan yang nikmat.

Setelah mengobrol dan melepas rindu, kami memulai perjalanan ke Cibubur dengan Cicilia yang menyetir dan Susan sebagai pemandu jalan. Saya kira kami akan mengunjungi sebuah kompleks perumahan, tetapi rumah Marga T ternyata berada tepat di pinggir jalan raya. Rumahnya nyaman dengan nuansa Bali. Kami bersantai di ruang tamu dan percakapan dimulai dengan panggilan video ke Angelia, memberitahunya bahwa kami akan datang tahun depan; tetapi dia selangkah lebih cerdik dan mengatakan bahwa dia tidak akan ada di tempat, haha.

Saat semua tiba.

Sementara itu, Evi, Mul AW, dan Junaidi tiba. Anggota kelompok akhirnya lengkap, dan karena separuh dari rombongan bergerak di bidang bisnis yang sama, percakapan sesekali terasa seperti konferensi mini bahan bangunan. Istilah-istilah seperti aspal cair dan baja ringan terdengar berulang-ulang.

Lalu, ketika putri Marga T—seorang calon dokter gigi—masuk ke ruang tamu, Susan mulai bernegosiasi dengannya mengenai gigi-gigi yang sudah dicabut. Begitu banyak topik acak yang dibahas dalam acara yang seharusnya menjadi reuni SMA ini!

Makan siang.

Kemudian tibalah saatnya para wanita memasak. Kami mulai mencium aroma sedap dan akhirnya kami dipersilakan menuju meja makan. Tersaji hidangan khas Pontianak yang begitu menggugah selera dan sudah lama tidak saya lihat; pakis, ikan asin goreng garing, hekeng, dan petis tampak begitu memikat layaknya kawan lama. Piring saya terisi penuh dengan nasi dan saya sama sekali tidak mengeluh, karena sudah sekian lama saya tidak menikmati masakan-masakan seperti itu! Dan tidak, saya sama sekali tidak berniat mengurangi porsinya!

Kami bersantai sejenak setelah makan siang yang mengenyangkan, lalu beranjak untuk melihat toko bahan bangunan milik Marga T yang baru dibuka. Tempatnya sangat luas, berupa sebuah kawasan terpadu yang memuat toko besar, bengkel kerja masif, dan kantor dua lantai yang apik dengan desain luar senada dengan rumahnya. Kami masuk ke ruang pertemuan dan nongkrong di sana, tanpa menghasilkan kesimpulan apa pun karena harga tiket liburan Hari Raya tahun depan masih tetap mahal.

Di ruang rapat.

Menjelang malam, kami menuju ke Artotel di Mall Living World. Proses check-in berjalan lancar, meskipun saat masuk ke Kamar 1119 sempat agak merepotkan karena gerendel pintunya macet dan kami harus memanggil bagian pemeliharaan hotel untuk membantu membukakan pintu. Saat makan malam, Jimmy meledek Gunawan karena tidak memperhatikan tulisan Soto Betawi yang tertera di piring dan tetap menyebutnya Soto Kudus ketika Susan mengunggah fotonya di grup obrolan kami. Malam itu ditutup dengan Alvin yang memberikan terapi penyesuaian (chiropractic adjustment) kepada Cicilia dan saya.

Hari Minggu diawali dengan santai bagi kami, kecuali untuk Cicilia. Dia berkendara kembali ke Karawang untuk menghadiri misa krisma putranya, lalu kembali lagi ke Cibubur untuk membawakan makan siang bagi kami di Jakarta. Sembari menunggunya, Marga T menjadi klien terbaru Alvin. Waktunya pas sekali, dan kami pun berangkat ke Lapo Ni Tondongta untuk menikmati masakan Batak. Rasa rindu saya pada makanan itu akhirnya terpuaskan!

Menikmati Lapo.

Marga T berpamitan dan kembali ke Cibubur seusai makan siang. Dia tiba di tokonya tepat pada saat kami sampai di bandara. Saya melakukan check-in, menikmati rehat minum teh sejenak bersama teman-teman yang lain, lalu berpisah dengan mereka. Perjalanan ke Cibubur secara resmi berakhir pada kalimat terakhir ini!

Epilog:
Saat menulis catatan ini, saya teringat ucapan Alvin tentang zona nyaman. Pertanyaan saya kala itu terkait dengan teori baru saya mengenai mengapa teman-teman kita tahu kapan mereka tidak bisa hadir, tetapi tidak pernah tahu kapan mereka bisa. Alvin berpandangan bahwa itulah zona nyaman mereka—bahwa setelah terjebak sekian lama tanpa adanya perubahan, situasi tersebut telah menjadi zona yang membuat mereka merasa nyaman. Sebuah gagasan menarik yang tentu perlu kita telaah lebih jauh!