Total Pageviews

Translate

Saturday, February 7, 2026

Yogyakarta: Earthquake And Ashes

This trip originated from a late-night conversation between Eday and me that happened about three weeks ago. I was reluctant to go for another trip to Yogyakarta, citing the reason that I had been there and done that in 2019. However, when Eday mentioned that it would be the first time that we traveled together with Mul, I was immediately sold.

In order to understand this, we gotta go back to many, many years ago, when it was life before college. Eday, Mul, and I were not only close friends, but we were also the founding members of the cooking club. Oh yes, that was how decent we were! While Eday and I had traveled together from the voyage to Jakarta in 1997 to the Ipoh trip in 2024, I only had one trip with Mul to Kuching in the early 2000s. The thought of the three of us having our first trip was exciting, certainly not to be missed!

Mul and I during my arrival.

So off I went on Thursday afternoon. At 6:40 PM GMT+7, I was already taking my first picture with Mul in front of Stasiun Tugu in Yogyakarta. We walked a bit for a plate of fried rice that was much cheaper than my regular tea c. A hilarious comparison! From there, we went to Por Aqui, our Mexican-themed hotel, located in an area described by Mul as the Bali's Legian wannabe. It was touristy. We checked in, had scoops of ice cream at Tempo Gelato, then picked up Eday at Fortunate Coffee.

Note that we had this trend of having a captain for a trip. Since this was Eday's trip that he christened as Poor Trip, I cheekily named him Captain Miskin, AKA Captain Poor. On top of that, it was a hush-hush kind of trip. Totally out of my character, but I obeyed it since it was the captain's order. So while some in our group chat might have been suspecting, we only confirmed it by posting the photo below at 2:12 AM on the following morning.

After the earthquake.

So back to our story, now that we were all together, we headed to Barley and Barrel at Artotel for the alcohol-induced conversation. Oh yes, just three old friends opening up and talking frankly about life. It had quite a few surprising moments. Just when you thought you knew friends quite well! And it was interesting to learn about the dynamics of our friendship and how each one of us meant to another. 

We were quite deep into our conversation when an earthquake suddenly happened. It was my first, and I learned later that it was a medium-level earthquake. When the whole place was shaking, my immediate thought was to get under the table, but I wasn't too sure about it, so I stood up instead and looked for a waitress to ask. 

The experience was so fast and surreal that it was a blur. By the time I got hold of the situation, we were outside with the waitress, who apologized for the earthquake, as if she was the one causing it. When we sat down again, Eday said to me, "And you thought Jogja as a destination would have been boring?"

Recreating the photo we took in 1997. 

We had our supper at Gudeg Wijilan Bu Hj. Rini after the earthquake, then headed back to the hotel to get some rest. The next day began around 10 AM at the Brewing Room for our morning coffee. Hartono came to meet us, and that's when we recreated a two-decade-old picture. Years after my 17th birthday, there we were sitting together again on a couch in our mid-40s.

After that, Vivi and Agus, Eday's college friends, came to join us. The last to arrive was Teng Lai. The college friends reminisced and had a catch-up. We were there until close to 1 PM. Vivi had a dancing studio and she had a class to teach, so we also left for lunch at Bebek Indra. 

After the lunch.

After an eye-opener food ordering experience (Teng Lai is vegetarian and can't even eat onions), we enjoyed our meal and hung out until almost 4 PM. We also exchanged perspectives, foreigners versus locals. The key takeaway: if your life is just daily routines, you are no longer thinking, and everything you do is autopilot. This wasn't good, so it was inspiring to meet up with friends.

We went to Gayo Kedai Kopi Roaster to top up our coffee intake for the day. Nice place, frequented by a lot of youngsters. That's where Eday revealed why he would be visiting the city of Kediri: he wanted to see the infamous ugly-looking white tiger statue up close and personal. We called Jimmy, and he was quickly persuaded to join the mission. 

The happy Jimmy. 

From Gayo, we returned to the hotel to freshen up before heading out for dinner. Given my nostalgic craving for cart-wheeled fried rice I used to have in Jakarta, of course, the dinner was nasi goreng tek-tek. From across our hotel, we walked towards Just Playon, a drinking place with a live band performance. 

The weather that night was quite humid, so Eday secured us an air-conditioned room. Soon the cavalry arrived, with Yuliana bringing us an unexpected surprise: cigarettes that healed! They were fermented with spices, supposedly good for high blood pressure, cholesterol, sugar blood levels, and, as a bonus, it made you slim! Hell, even the ashes were consumable, either directly or sprinkled on your drink. Tasting it was believing!

The last photo together. For now!

But all good things must come to an end. After midnight, we said our goodbyes and went our separate ways. The boys dropped me off at the airport in the morning, and as I flew back to Singapore, they made their way to Magelang before heading to Kediri. The journey continued!

Epilogue: 
Mul said he was sad when Eday said this could be the last time they did the Poor Trip. I was never keen on such a trip to begin with! But it had been a blast. It took us almost 30 years to travel together for the first time ever. Not only did it give us a chance to see how far we had come since our days in Pontianak, but most importantly, it was good to look back and cherish our friendship.

Three friends and fried rice. 

We might be different, so different, but in the end, I'd like to think we were just three guys who genuinely cared about each other, regardless of what we had become in this lifetime.



Yogyakarta: Gempa Dan Abu

Perjalanan ini berawal dari percakapan larut malam antara Eday dan saya sekitar tiga minggu yang lalu. Awalnya saya enggan untuk pergi lagi ke Yogyakarta, alasannya karena saya sudah pernah ke sana pada tahun 2019. Namun, ketika Eday menyebutkan bahwa ini akan menjadi pertama kalinya kami bertiga—saya, dia, dan Mul—bepergian bersama, saya langsung setuju tanpa berpikir panjang.

Untuk memahami hal ini, kita harus menengok kembali ke masa bertahun-tahun yang lalu, sebelum kuliah dimulai. Eday, Mul, dan saya bukan hanya teman dekat, tapi juga pendiri klub memasak zaman SMA. Oh ya, begitulah baiknya kami sebagai remaja dulu! Selama ini, Eday dan saya sudah beberapa kali bepergian bersama—mulai dari perjalanan ke Jakarta tahun 1997 hingga ke Ipoh pada tahun 2024—tetapi saya hanya pernah sekali bepergian dengan Mul ke Kuching di awal tahun 2000-an. Jadi, gagasan tentang kami bertiga akhirnya bisa melakukan perjalanan bersama untuk pertama kalinya sangatlah menggembirakan dan tentu saja tidak boleh dilewatkan!

Mul dan saya di depan Stasiun Tugu.

Jadilah saya berangkat pada Kamis sore. Pada pukul 18.40 waktu GMT+7, saya sudah berfoto pertama bersama Mul di depan Stasiun Tugu Yogyakarta. Kami berjalan sebentar untuk mencari sepiring nasi goreng yang harganya bahkan lebih murah daripada segelas teh c favorit saya. Perbandingan yang lucu! Dari sana, kami menuju ke Por Aqui, hotel bernuansa Meksiko yang kami tempati, berlokasi di area yang oleh Mul disebut mirip Legian di Bali—namun versi wannabe. Tempatnya memang banyak turis. Kami check-in, menikmati es krim di Tempo Gelato, lalu menjemput Eday di Fortunate Coffee.

Perlu diketahui, kami memiliki tradisi untuk menunjuk seorang “kapten” di setiap perjalanan. Karena ini adalah perjalanan Eday yang dia beri nama Poor Trip, saya dengan bercanda menamainya Kapten Miskin. Selain itu, perjalanan ini dilakukan secara diam-diam—sesuatu yang sama sekali bukan karakter saya! Tapi saya patuh, karena ini adalah perintah sang kapten. Beberapa orang di grup SMA mungkin sempat curiga, namun kami baru mengonfirmasi dengan foto di bawah ini pada pukul 2:12 pagi keesokan harinya.

Setelah gempa.

Kembali ke cerita, ketika kami bertiga akhirnya sudah berkumpul, kami menuju ke Barley and Barrel di Artotel untuk menikmati obrolan santai ditemani sedikit alkohol. Oh ya, hanya tiga sahabat lama yang berbincang terbuka tentang kehidupan. Banyak momen yang mengejutkan juga muncul malam itu—ketika Anda berpikir sudah mengenal teman dengan baik, ternyata masih ada hal baru untuk diketahui! Menarik sekali mempelajari dinamika persahabatan kami dan bagaimana masing-masing dari kami memandang satu sama lain.

Kami sudah cukup larut dalam percakapan ketika tiba-tiba terjadi gempa bumi. Itu adalah pengalaman pertama saya, dan kemudian saya tahu bahwa skalanya menengah. Saat gempa melanda, refleks pertama saya adalah hendak bersembunyi di bawah meja, tapi saya tidak yakin, jadi saya berdiri dan mencari pelayan untuk bertanya.

Semua berlangsung begitu cepat dan terasa tidak nyata—benar-benar kabur dalam ingatan. Ketika saya mulai memahami situasi, kami sudah berada di luar bersama pelayan yang bahkan meminta maaf atas gempa itu, seolah-olah dia yang menyebabkannya. Setelah semuanya tenang dan kami kembali duduk, Eday berkata kepada saya, “Dan kamu sempat berpikir bahwa Jogja sebagai tempat tujuan itu membosankan, ya?”

Berpose lagi seperti foto di tahun 1997. 

Kami melanjutkan malam dengan makan di Gudeg Wijilan Bu Hj. Rini seusai gempa, kemudian kembali ke hotel untuk beristirahat. Keesokan harinya bermula sekitar pukul 10 pagi di Brewing Room untuk menikmati kopi pagi. Hartono datang menemui kami, dan di situlah kami mengulang foto dua dekade yang lalu. Bertahun-tahun setelah ulang tahun saya yang ke-17, kami kembali duduk bersama di sofa—kini di usia pertengahan 40-an.

Tak lama kemudian, Vivi dan Agus—teman kuliah Eday—bergabung. Yang terakhir datang adalah Teng Lai. Mereka berbincang dan bernostalgia sampai sekitar pukul 1 siang. Karena Vivi harus mengajar di studio tari miliknya, kami pun beranjak untuk makan siang di Bebek Indra.

Setelah makan siang.

Di sana, saya mendapatkan pengalaman menarik dalam memesan makanan—karena Teng Lai vegetarian dan bahkan tidak bisa makan bawang! Namun kami semua menikmati hidangan dan mengobrol sampai hampir jam 4 sore. Kami saling bertukar pandangan—antara orang luar dan lokal. Kesimpulan penting: kalau hidupmu berkutat pada rutinitas yang sama setiap hari, pikiranmu berhenti bekerja, dan semua yang kamu lakukan berjalan otomatis. Ini tidaklah baik, maka penting untuk berkumpul bersama teman.

Kami lanjut ke Gayo Kedai Kopi Roaster untuk menambah dosis kafein hari itu. Tempatnya nyaman dan banyak dikunjungi anak muda. Di sanalah Eday mengungkapkan rencananya untuk berkunjung ke Kediri, karena dia ingin melihat langsung patung harimau putih yang terkenal jelek itu. Kami menelepon Jimmy, dan tidak butuh waktu lama untuk membujuknya agar ikut dalam misi tersebut.

Jimmy yang berseri-seri. 

Dari Gayo, kami kembali ke hotel untuk bersiap-siap dan kemudian keluar lagi untuk makan malam. Karena saya rindu nasi goreng gerobakan yang dulu sering saya nikmati di Jakarta, tentu saja pilihan makan malam jatuh pada nasi goreng tek-tek. Dari seberang hotel, kami kemudian berjalan menuju Just Playon, tempat minum dengan pertunjukan grup musik.

Malam itu cukup lembab, jadi Eday memastikan kami mendapatkan ruangan ber-AC. Tak lama kemudian “pasukan” tambahan datang, dan Yuliana membawa kejutan tak terduga: rokok penyembuh! Konon difermentasi dengan rempah-rempah dan baik untuk tekanan darah tinggi, kolesterol, kadar gula, bahkan bisa membuat langsing! Bahkan abunya bisa dikonsumsi—baik secara langsung atau ditaburkan ke minuman. Mencobanya benar-benar pengalaman tersendiri!

Foto sebelum bubaran.

Namun semua hal baik pasti berakhir juga. Setelah lewat tengah malam, kami berpamitan satu per satu. Pagi harinya, Eday dan Mul mengantar saya ke bandara, sementara mereka melanjutkan perjalanan ke Magelang, lalu menuju Kediri. Petualangan mereka masih berlanjut!

Epilog:
Mul mengaku sedih ketika Eday mengatakan bahwa ini mungkin perjalanan “Poor Trip” terakhir mereka. Padahal saya sendiri awalnya tidak terlalu antusias dengan konsep perjalanan ini! Tapi kenyataannya, perjalanan ini luar biasa. Butuh waktu hampir 30 tahun bagi kami bisa bepergian bersama untuk pertama kalinya. Perjalanan ini tidak hanya memberi kesempatan untuk melihat sejauh mana kami telah melangkah sejak masa kami di Pontianak, tapi yang lebih penting, kami pun diingatkan kembali untuk menghargai persahabatan ini.

Tiga teman dan nasi goreng. 

Kami mungkin berbeda—sangat berbeda—tetapi pada akhirnya, saya yakin bahwa kami hanyalah tiga pria yang benar-benar peduli satu sama lain... 


Wednesday, January 28, 2026

Into The Unknown

Today's inspiration is based on a comment in the group chat: "The togetherness can also be done in Jakarta." To give context, as the founder of the fictitious Robinson Travel, I'm the number one proponent of traveling together. My friends hear that a lot from me on a daily basis, hence one of the responses above.

But is there any truth in it? Or just a comment to brush me off? Let's frame the scope properly here: old friends, togetherness, and destinations. When old friends are hanging out, we have this togetherness, all right. So what's with the destination?

In Singapore.

Adventure. That's the differentiating factor. When people come visiting, the other will have to play host. Even when there isn't a host, there will be this grounded feeling, no thanks to the homeground advantage. While it may be new for others, you are in a familiar environment and you know how things work.

Case in point, all the times I hosted my friends in Singapore. I had fun showing Singapore to my friends, all right. They were good times, they were full of togetherness, but they weren't adventures. There was this lingering feeling that, as a host, I roughly knew how the trips were going to be.

In Jakarta.

It was the same case if the place was so familiar that a host wasn't needed. That last year's trip to Jakarta was almost autopilot. No intended destinations, just random places for us to hang out. There were only so many stories we could spend talking about in the few hours we were together.

But it was so different when I was just one of the guys, journeying into the unknown. The trips to China, Chiang Mai, Ipoh, Koh Samui, and many more – they were togetherness at its best. We didn't know what to expect, but we were exploring the unknown together. You were out of your element, and got to rely on each other. All the laughter and mistakes we created together would become shared memories we'd remember until the day we closed our eyes.

In Koh Samui.

So back to the statement, it was an opinion, a valid one, but certainly from someone who had never experienced togetherness outside of their comfort zone. It was one thing to just meet for a few hours, but it was an entirely different experience to travel together and get to see your friends from a different angle. It was, for the lack of a better term, enriching!

But do we really have to travel outside of Indonesia? In all honesty, in the context above, a new place will actually do, but the question is, why stop in Indonesia when you can dream big? Tomorrow, the world! I discovered that this isn't just wishful thinking, therefore I am sharing the good news tirelessly! It definitely can be done!



Menjelajah Tempat Baru

Inspirasi hari ini berawal dari sebuah komentar di grup SMA: “kebersamaan juga bisa dilakukan di Jakarta.” Untuk memberi sedikit konteks, sebagai pendiri Robinson Travel yang fiktif, saya adalah pendukung nomor satu dari ide bepergian bersama. Teman-teman saya sudah sering sekali mendengar hal itu dari saya setiap hari—karena itu, mungkin salah satu dari mereka melempar komentar seperti di atas.

Tapi benarkah demikian? Atau hanya komentar ringan untuk menutup pembicaraan saja? Mari kita rangkum dengan benar: sahabat lama, kebersamaan, dan destinasi. Ketika sahabat lama berkumpul, tentu ada rasa kebersamaan di situ. Lalu, apa pentingnya sebuah destinasi?

Di Singapore.

Jawabannya: petualangan. Itulah faktor pembeda. Ketika seseorang datang berkunjung, yang lain harus menjadi tuan rumah. Bahkan kalau tidak ada tuan rumah sekalipun, tetap ada rasa “sudah pernah”, karena berada di wilayah sendiri. Meskipun tempat itu mungkin baru bagi sebagian peserta yang hadir, tetap saja ada yang sudah kenal baik dengan lingkungan tersebut dan tahu bagaimana segala sesuatunya berjalan.

Contohnya, semua kesempatan ketika saya menjadi tuan rumah di Singapura. Saya senang sekali menunjukkan Singapura kepada teman-teman saya. Momen-momen itu sangat menyenangkan, penuh kebersamaan, tapi bukan petualangan. Selalu ada perasaan bahwa, sebagai tuan rumah, saya kurang lebih sudah tahu bagaimana perjalanan itu akan berlangsung.

Di Jakarta.

Hal yang sama terjadi ketika tempatnya sudah terlalu akrab, sampai tidak perlu ada tuan rumah. Seperti saat perjalanan tahun lalu ke Jakarta—semuanya terasa otomatis. Tidak ada rencana tujuan tertentu, hanya tempat-tempat acak untuk nongkrong bersama. Cerita yang bisa dibahas dalam beberapa jam pun terbatas.

Namun, rasanya sangat berbeda ketika saya hanyalah salah satu dari geng yang menjelajah tempat baru. Perjalanan ke Tiongkok, Chiang Mai, Ipoh, Koh Samui, dan banyak tempat lain—itulah kebersamaan yang sesungguhnya. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi kami menjelajah hal-hal yang tak dikenal bersama. Saat keluar dari zona nyaman, kami saling mengandalkan. Semua tawa dan kesalahan yang kami alami berubah menjadi kenangan indah yang akan kami ingat sampai akhir hayat.

Di Koh Samui.

Jadi kembali ke pernyataan tadi—itu memang pendapat yang sah, tapi jelas datang dari seseorang yang belum pernah merasakan kebersamaan di luar zona nyaman. Bertemu beberapa jam itu terasa ringan, tapi bepergian bersama adalah pengalaman yang benar-benar berbeda; kita bisa melihat sisi lain dari teman-teman kita. Untuk menggambarkannya dengan satu kata: memperkaya!

Tapi apakah kita harus bepergian ke luar Indonesia? Sejujurnya, dalam konteks tadi, tempat baru di dalam negeri pun bisa menciptakan hal yang sama. Namun pertanyaannya: mengapa berhenti di Indonesia kalau kita bisa bermimpi lebih besar? Besok kita jelajahi dunia! Saya menemukan bahwa ini bukan sekadar angan-angan belaka—itulah sebabnya saya terus menyebarkan kabar baik ini tanpa lelah. Ini sungguh bisa dilakukan!

















Saturday, January 24, 2026

The Pivot

More often than not, I follow the writing 101 pattern. But there were occasions when the idea hit me right in the face that it felt very hard to ignore it. There's this urge that it just had to be done immediately. One great example was the big squabble of 2022. Then there was this one. 

It started as a casual thing we talked about. The topic this time was the lack of honest civil servants in Indonesia. It soon evolved into, "What's the point of being honest?" Then the next remark was, "Just carry on the corruption. The country won't go bankrupt anyway."

I didn't notice this at first. But when I sat down to have my breakfast, another friend responded to this, and it caught my attention. There and then, I noticed a tendency to pivot: there was always a comment to save face when cornered, even when it was actually out of context. 

But the audacity of it! The impression was so strong that it opened the floodgates of typical responses. There was never any humility, let alone an honest, to-the-point answer. There was always this need to show off, even when the person wasn't in a position to do so. It was anything but being humble and honest.

Earlier today, prior to this, I had a conversation with another friend. He said if you lived in a place where the culture was sick, you'd end up behaving like one, too. You simply couldn't be good, or your best simply wasn't good enough. You wouldn't even know it, because you were in a culture that measured itself on such a low benchmark. 

So what's the cure? Well, coming from me, I can only tell you one thing. My mantra, one that I hold dearly, is that traveling is a humbling experience. What you experience, the culture you see, it gets you thinking. And the fact that you are able to travel helps convince you that perhaps there is hope just yet to break the boundaries.




Pengalihan Isu

Bicara tentang blogging, biasanya saya mengikuti pola penulisan 101. Tapi ada kalanya ketika sebuah ide muncul begitu saja di depan mata hingga terasa sangat sulit untuk diabaikan. Ada dorongan kuat bahwa ide itu harus segera dituangkan. Salah satu contohnya adalah pertengkaran besar tahun 2022. Lalu ada pula yang satu ini.

Awalnya hanya obrolan santai. Topiknya kali ini tentang kurangnya pegawai negeri yang jujur di Indonesia. Tak lama kemudian, obrolan itu berkembang menjadi pertanyaan: "Apa gunanya menjadi jujur?" Lalu muncul komentar berikutnya, "Lanjutkan saja korupsi. Negara juga tidak akan bangkrut."

Awalnya komentar ini luput dari perhatian saya. Namun saat saya duduk untuk sarapan, seorang teman lain merespons pernyataan itu, dan di situlah perhatian saya tersita. Saat itu juga, saya menyadari kecenderungan untuk berkelit dan mengalihkan isu— selalu ada komentar untuk menjaga muka saat terpojok, bahkan ketika komentar itu jelas di luar konteks.

Tapi yang membuat saya tercengang adalah lantangnya ucapan yang tidak bertanggung jawab ini! Kesan yang ditinggalkan begitu kuat sehingga tanggapan serupa yang selama ini saya baca pun bermunculan kembali. Tidak ada kerendahan hati, apalagi jawaban jujur dan lugas. Selalu ada dorongan untuk pamer, bahkan ketika posisi orang itu tak layak untuk melakukannya. Yang penting lantang, asal dak perlu mengakui kekurangan yang ada. 

Tadi pagi, sebelum kejadian itu, saya sempat berbincang dengan teman lain. Ia berkata bahwa jika anda hidup di tempat dengan budaya yang rusak, anda pun akan ikut rusak. Anda tidak bisa menjadi orang baik, atau yang terbaik dari upaya anda pun tidak akan pernah cukup baik. Anda bahkan tidak akan menyadarinya, karena anda berada di dalam budaya yang mengukur dirinya dengan standar yang begitu rendah.

Lalu, apa obatnya? Nah, dari pengalaman saya sendiri, saya hanya bisa bilang satu hal: mantra saya, yang saya pegang erat, adalah bahwa perjalanan adalah pengalaman yang merendahkan hati. Apa yang Anda alami, budaya yang Anda lihat, semuanya membuat Anda berpikir. Dan kenyataan bahwa Anda masih bisa bepergian, itu membantu meyakinkan Anda bahwa mungkin masih ada harapan untuk menembus batas-batas itu. Mari, mari.


 

















Tuesday, January 6, 2026

Breaking The Boundaries

While the recent trip to Cambodia was pretty much a manifestation of something cheeky and ocipala, the lesson I learned from it wasn't. On the contrary, it was actually quite enlightening. It made me realize that we had subconsciously carried the baggage of our upbringing, that certain things couldn't be done or shouldn't be done in such a way. 

Let's put it into context. I was going to Hard Rock Cafe, just not the one on Orchard Road, but the one in the neighboring country. The norm dictated that such an action was over the top, but if it was harmless and a dream I could afford, why shouldn't I do that? Granted, it was unusual, but it was doable. It was possible.

The main problem is what people or even we ourselves would say about it. Such a mindset was what we grew up with, one that would solidify as boundaries that stopped us from doing things we could have done. Growing up in a small town with an unsupportive culture, I also developed these issues subconsciously.

I had many, in fact. The inability to swim, because what would people say if they saw a middle-aged guy learning how to swim? Then there were others, such as watching a Beatle perform or stepping onto the Abbey Road zebra crossing. Those felt impossible, so unlikely that it felt almost forbidden.

It would have stayed that way forever, until I suddenly realized that perhaps it shouldn't be this way. It was an epiphany. And much to my surprise, worlds collided when I took the steps. The impact was huge. I could look silly and struggle like mad in the water, but others would just mind their own business, apparently. For close to three hours in my lifetime, that boy from Pontianak and a Beatle were in the same room. And when I took my first step on the zebra crossing, it was like telling my younger self, "I bet you didn't see this coming, eh?"

And just like that, the boundaries were shattered. Things that had stayed impossible for the longest time, they just vanished. And when they did, a new understanding was born: it turned out that it could be done. And the more you broke the boundaries, not only did you gain confidence that things could be done, but your priorities would also be clearer.

Just this morning, in our group chat, my friend Wiwi said it was not possible that Hendra Wijaya considered going to Brunei. But the real question was, why not? Everything started with a small step, but the more you did it, the more you felt that it wasn't out of reach. Tomorrow, the world! Isn't that how it should be? If life is about cultivating habits, then perhaps it's time to break the mindset barriers. We're not getting any younger!

That young man on the right and the baggage of his upbringing.



Batasan Dalam Pola Pikir

Perjalanan saya baru-baru ini ke Kamboja sebenarnya merupakan manifestasi dari sesuatu yang agak iseng dan ocipala, tapi pelajaran yang saya dapat dari pengalaman tersebut tidaklah main-main. Justru sebaliknya—pengalaman itu sangat mencerahkan. Saya jadi merasa bahwa tanpa sadar, kita senantiasa terbelenggu keterbatasan yang kita pelajari sedari kecil: bahwa ada hal-hal yang seakan tidak boleh dilakukan, atau seharusnya tidak dilakukan dengan cara tertentu.

Untuk memberi konteks, saya pergi ke Hard Rock Cafe—bukan yang di Orchard Road, tapi yang ada di negara tetangga. Menurut norma yang umum, tindakan seperti itu terdengar berlebihan. Tapi kalau itu hal yang tidak berbahaya dan merupakan mimpi yang bisa saya wujudkan, kenapa tidak? Memang agak tidak lazim, tapi bukanlah perkara yang tidak mungkin, melainkan sesuatu yang bisa dilakukan.

Masalah utamanya adalah apa yang orang lain—atau bahkan diri kita sendiri—akan katakan tentang tindakan kita. Pola pikir seperti inilah yang kita anut sejak kecil. Hal ini membentuk batas-batas di pikiran kita, yang akhirnya menghentikan kita untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya bisa saja kita lakukan. Tumbuh di kota kecil dengan budaya yang kurang mendukung, saya pun memiliki banyak masalah seperti ini yang tanpa sadar membatasi saya.

Banyak sekali, sebenarnya. Misalnya, saya tidak bisa berenang karena berpikir: “Apa kata orang kalau mereka melihat pria paruh baya belajar berenang?” Lalu hal-hal lain, seperti menonton seorang Beatle secara langsung, atau melangkah di zebra cross Abbey Road. Semua itu dulu terasa tidak mungkin—begitu mustahilnya sampai terasa seperti sesuatu yang “terlarang”.

Dan mungkin akan tetap begitu selamanya, sampai saya tiba-tiba menyadari bahwa seharusnya tidak perlu demikian. Saya mengalami semacam pencerahan. Dan yang mengejutkan, begitu saya mulai melangkah, dua dunia yang berbeda pun bertabrakan. Dampaknya luar biasa. Saya mungkin terlihat konyol dan kesulitan di air, tapi ternyata orang lain tidak peduli dan mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Dalam waktu sekitar tiga jam dalam hidup saya, seorang anak dari Pontianak dan seorang Beatle berada di ruangan yang sama. Dan ketika saya menapakkan kaki pertama di zebra cross Abbey Road, rasanya seperti berkata pada diri saya dulu yang berusia belasan tahun, “Hei, kamu pasti tidak menyangka ini bakal terjadi, kan?”

Dan tiba-tiba saja, batas-batas itu runtuh. Hal-hal yang dulu terasa mustahil tiba-tiba lenyap. Dan ketika itu terjadi, muncul sebuah pemahaman baru: ternyata semua itu bisa dilakukan. Semakin banyak batas yang kamu lewati, bukan hanya kepercayaan dirimu bertambah, tapi juga prioritas hidupmu jadi lebih jelas.

Pagi ini di grup SMA kami, teman saya Wiwi berkomentar bahwa tidak mungkin Hendra Wijaya mempertimbangkan untuk pergi ke Brunei. Namun pertanyaan sebenarnya adalah—kenapa tidak? Segala sesuatu dimulai dari langkah kecil, tapi semakin sering kamu melangkah, semakin terasa bahwa itu bukan hal yang mustahil. Dunia menanti! Bukankah seharusnya hidup memang seperti itu? Kalau hidup adalah tentang membentuk kebiasaan, maka mungkin sudah saatnya kita juga menghancurkan batasan dalam pola pikir kita. Jangan lupa, kita juga tidak semakin muda!

Friday, December 26, 2025

A Smaller World

Many, many years ago, probably two and a half decades ago, I bumped into my friend Jimmy Lim on my bus ride back from Kuching to Pontianak. When I asked him why he visited Kuching, he replied nonchalantly, "Oh, just went there to play basketball." I found that hilariously funny, an off-the-cuff remark that I'll never forget. 

Fast forward to September 2024, I was sitting at the back of the church. Was supposed to be the translator, but it wasn't needed that day, so I ended up daydreaming instead. God knows why I was suddenly inspired by what Jimmy said in our 20s. It must be funny if I just went to Phnom Penh, bought a Hard Rock t-shirt and came back to Singapore. If people asked, I could just say, "just went there to buy a Hard Rock t-shirt."

The idea was entertaining, given my lifelong passion for the absurd, ocipala stuff. I executed the idea, even though I wasn't exactly sure. However, it wasn't meant to be. Closer to the date, suddenly it was announced that I needed to go to the Beijing office instead. The date clashed, as I'd be flying on December 8, 2024, the same day as my return flight from Phnom Penh. As Beijing was a business trip, the Cambodia trip eventually failed. 

About six months later, I was heading to JB with Surianto. We talked about his solo trip to Cambodia. He was keen on Siem Reap as he wanted to see Angkor Wat. I didn't wish to do so because I had done that back in 2009. We eventually made a pact: he'd go to Siem Reap to get me the Hard Rock t-shirt, and I'd return the favor by getting him one from Phnom Penh.

At SATS Premier Lounge.

So another six months later, on Christmas Eve, when it was lunchtime, I walked out of my office with a rucksack on my back, headed to Changi Airport, flew to Phnom Penh, travelled to the city, checked in to the hotel, and I was at Rock Shop not long after that. Oh yes, I left the office and went to Hard Rock Cafe. It's just not the cafe on Orchard Road, but one a couple of hours farther away, to the north of Singapore. 

As I did that, it dawned on me that, in this day and age, the world had become smaller and things were so much more doable. Quite enlightening. You know how we always have subconscious mental blocks that certain things just can't be done? One of them had just vanished into thin air. 

At Techo International Airport.

But let's go back a little to the arrival. Techo International Airport was so grand and modern, something that I clearly didn't expect from Cambodia. Remember the autogate that I mentioned during my Bali trip? Indonesia couldn't do it right, so imagine my surprise when I just scanned my Singapore passport and entered the country seamlessly. Mind-blowing!

The signage for Express Airport Bus was a bit vague, though. Took me a while to figure out where it was. When I got to the bus stop, there was an Indonesian lady there, so we talked and she openly told me about many Indonesians that came to work at the scam centers and online gambling sites. As the bus never arrived, a young man from Germany named Marcus asked me if I'd like to share the tuktuk. Another lady from the US called Biba joined in, so three of us squeezed in and made our way to the city. It was fun. What a way to begin our adventure!

The Cambodia Post.

The next morning, I was on a mission again: to find Cambodia Post. It was not far, and the staff was helpful. Soon after I mailed it, I walked towards the riverside, tracing the trail of my younger self. When we journeyed from Ho Chi Minh City to Phnom Penh, we stayed at the Waterview Guesthouse, so I walked along the same road again 16 years later, making my way towards the Royal Palace of Cambodia.

Funny how your mind plays tricks on you. Fueled by nostalgia, I was full of hope that I'd find the guesthouse. When I saw the palace, I could almost see Markus stopping the tuktuk during our quest to find happy pizza. And I stopped there, never got past it, as though that would help me preserve the memories. Then I turned back, had my breakfast at Lotus Pho & Cafe. I ordered a fried rice set that came with Coca-Cola (weird that it wasn't tea or coffee). While eating, I did some research using AI and Google Maps. Apparently Waterview Guesthouse had been permanently closed. 

Waterview Guesthouse in 2009.

I walked back to Sunway Hotel, checked out and visited the biggest mall in town, Aeon Mall Mean Chey. I thought I could spend most of my time there because my flight was quite late at night. But although it was huge, there wasn't much for me to do there. Browsed the local food at Khmer Victory Village, but couldn't find one that looked tempting, so I ended up having salted egg noodles that tasted like a very spicy Indomie

I tried Bakong Tourist app for QR payment when I bought the noodles. Turned out that, it didn't deduct directly from the credit card and I needed to top up the KHR wallet using the card instead. There were charges in USD, hence no point doing so, especially when Phnom Penh is very card friendly. One more thing, when I paid in USD, the change was always in KHR. 

Back to the airport!

Since KHR is a fixed-rate currency (1 USD is 4,000 KHR), I might have problem converting it back to SGD in Singapore, therefore so I spent it as much as I could before leaving the country, hehe. After watching Anaconda at Major Cineplex, I took Grab to the airport, spent much of my time writing this blog at Plaza Premium Lounge, and, as I headed to Gate A21, I bought Naga Balm and paid in KHR! 

And that brought us back to Jimmy's comment at the beginning of the story. From here onwards, I'm qualified to say this: "Oh, why did I go to Phnom Penh, you ask? Not much, just went there to buy a Hard Rock t-shirt and come back!"



Dunia Yang Jadi Lebih Kecil

Bertahun-tahun yang lalu, mungkin sekitar dua setengah dekade lalu, saya bertemu teman saya, Jimmy Lim, dalam perjalanan pulang dari Kuching ke Pontianak. Ketika saya bertanya kenapa dia pergi ke Kuching, dia menjawab dengan santai, “Oh, cuma ke sana main basket.” Saya merasa ucapannya sangat lucu — komentar spontan nan konyol yang takkan pernah saya lupakan.

Lompat ke bulan September 2024, saya duduk di kursi di bagian belakang gereja. Saya seharusnya menjadi penerjemah, tapi ternyata hari itu tidak dibutuhkan, jadinya saya malah melamun. Entah mengapa, hanya Tuhan yang tahu, saya tiba-tiba teringat dengan ucapan Jimmy waktu kami masih berusia 20-an. Saya berpikir bahwa kocak juga kalau saya pergi ke Phnom Penh, membeli kaos Hard Rock, lalu pulang lagi ke Singapura. Kalau orang bertanya, saya bisa menjawab, “Oh, cuma ke sana beli kaos Hard Rock.”

Ide itu terasa menggelitik, terutama karena saya senantiasa memiliki ketertarikan terhadap hal-hal ocipala yang tidak masuk akal. Saya memutuskan untuk mengeksekusinya, meski masih agak ragu. Namun ternyata tidak semudah itu. Menjelang tanggalnya, tiba-tiba diumumkan bahwa saya harus pergi ke kantor Beijing. Jadwalnya berbenturan — saya harus terbang ke Beijing pada 8 Desember 2024, hari yang sama dengan jadwal kepulangan saya dari Phnom Penh. Karena perjalanan ke Beijing merupakan perjalanan bisnis, akhirnya rencana ke Kamboja batal.

Sekitar enam bulan kemudian, saya pergi ke JB (Johor Bahru) bersama Surianto. Kami berbicara tentang perjalanannya seorang diri ke Kamboja. Ia ingin ke Siem Reap karena ingin melihat Angkor Wat. Saya tidak tertarik karena sudah pernah ke sana pada tahun 2009. Akhirnya kami membuat kesepakatan: dia akan membelikan saya kaos Hard Rock dari Siem Reap, dan saya akan membelikan versi Phnom Penh untuknya.

Di SATS Premier Lounge.

Enam bulan berikutnya, sehari sebelum Natal, saat jam makan siang, saya keluar dari kantor dengan ransel di punggung, menuju Bandara Changi, terbang ke Phnom Penh, menuju ke pusat kota, check-in di hotel, dan tak lama kemudian saya sudah berada di Rock Shop. Oh iya, saya memang meninggalkan kantor untuk pergi ke Hard Rock Cafe — cuma bukan yang di Orchard Road, tapi yang letaknya beberapa jam lebih jauh ke utara dari Singapura.

Saat itu saya sadar, di zaman sekarang ini dunia terasa jauh lebih kecil dan segalanya jadi lebih mudah dilakukan. Sungguh membuka mata. Kadang kita punya batasan bawah sadar bahwa hal-hal tertentu tidak mungkin dilakukan, bukan? Nah, salah satu pikiran seperti ini kini lenyap begitu saja.

Di Bandara Internasional Techo.

Tapi mari kita mundur sedikit ke bagian kedatangan. Bandara Internasional Techo begitu megah dan modern — jauh di luar ekspektasi saya terhadap Kamboja. Ingat autogate yang saya ceritakan waktu perjalanan ke Bali? Indonesia saja belum bisa melaksanakannya dengan baik, jadi bayangkan betapa terkejutnya saya ketika saya cukup memindai paspor Singapura dan langsung masuk tanpa hambatan. Luar biasa!

Hanya saja, petunjuk menuju Bus Bandara Ekspres agak membingungkan. Saya butuh waktu untuk menemukannya. Ketika sampai di halte, ada seorang wanita asal Indonesia di sana, dan kami pun mengobrol. Ia bercerita bahwa banyak warga Indonesia datang untuk bekerja di pusat penipuan scam dan situs judi online. Karena bus tak kunjung datang, seorang pemuda asal Jerman bernama Marcus menawari saya untuk menaiki  tuktuk bersama demi menghemat ongkos. Seorang wanita asal AS bernama Biba ikut bergabung, jadi kami bertiga berdesakan di tuktuk menuju pusat kota. Seru nian! Sebuah awal petualangan yang unik!

Di Cambodia Post.

Keesokan paginya, saya punya misi lagi: mencari Kantor Pos Kamboja. Letaknya tidak jauh dan stafnya sangat membantu. Setelah mengirim kartu pos, saya berjalan ke arah tepi sungai, menelusuri jejak masa muda saya. Dulu, ketika kami berpergian dari Ho Chi Minh City ke Phnom Penh, kami menginap di Waterview Guesthouse. 16 tahun kemudian, saya menelusuri jalan yang sama lagi, berjalan menuju Istana Kerajaan Kamboja.

Lucu bagaimana pikiran bisa mempermainkan kita. Karena terbawa nostalgia, saya berharap bisa menemukan guesthouse itu kembali. Saat melihat istana, saya hampir bisa membayangkan Markus bernegosiasi dengan supir tuktuk dalam misi pencarian happy pizza. Saya berhenti di sana, tidak melangkah lebih jauh, seolah hal itu bisa membantu saya menjaga kenangan bersama Markus dan teman-teman. Lalu saya berbalik dan sarapan di Lotus Pho & Cafe. Saya memesan nasi goreng yang sepaket dengan Coca-Cola (aneh juga, bukan teh atau kopi). Sambil makan, saya mencari informasi lewat AI dan Google Maps. Ternyata Waterview Guesthouse sudah tutup permanen.

Waterview Guesthouse di tahun 2009.

Saya berjalan kembali ke Sunway Hotel, check-out, lalu mengunjungi mal terbesar di kota, Aeon Mall Mean Chey. Saya pikir bisa menghabiskan banyak waktu di sana karena penerbangan saya malam hari. Tapi meskipun besar, tidak banyak yang bisa dilakukan. Saya menjelajahi area makanan lokal di Khmer Victory Village, namun tidak ada yang tampak menarik, jadi akhirnya saya makan mi telur asin yang rasanya seperti Indomie yang sangat pedas.

Saya mencoba aplikasi Bakong Tourist untuk pembayaran QR saat membeli mi tersebut. Ternyata, sistemnya tidak menarik saldo langsung dari kartu kredit, tetapi harus mengisi e-wallet KHR terlebih dahulu. Karena ada biaya dalam USD, saya memutuskan untuk tidak menggunakan QR, apalagi Phnom Penh sudah sangat ramah terhadap kartu kredit. Satu hal lagi, kalau saya membayar dengan USD, uang kembalian selalu dalam KHR.

Kembali ke bandara!

Karena mata uang KHR memiliki nilai tukar tetap (1 USD = 4.000 KHR), saya mungkin akan kesulitan menukarnya kembali ke SGD di Singapura. Jadi saya berusaha menghabiskannya sebelum keberangkatan, hehe. Setelah menonton film Anaconda di Major Cineplex, saya naik Grab ke bandara, menghabiskan waktu menulis blog ini di Plaza Premium Lounge, dan ketika menuju Gerbang A21, saya membeli Naga Balm — dibayar dengan KHR!

Dan akhirnya, kita kembali lagi ke komentar Jimmy di awal cerita. Mulai dari sekarang, saya resmi bisa berkata: “Oh, kenapa saya pergi ke Phnom Penh? Cuma ke sana beli kaos Hard Rock lalu pulang lagi!”

Tuesday, December 23, 2025

The Family Trip To Bali

And somehow the strongest impression I have is how narrow the roads were, so narrow that every car slowed down to a crawl. The trip to Bali was filled with car rides. Lots of them, from one point to another, for a long time. After five visits, it seemed like Bali had lost its charm. 

Now let's look back a bit. Bali was my wife's idea. The last time she went to Bali was 15 years ago. Since the kids also hadn't been there before, it sounded like a good idea. Yani did the itinerary, Linda chose the hotel in Seminyak (Courtyard by Marriott), and the rest of us tagged along. When I said the rest of us, I meant my mum and brother, too. Yani suggested we meet up in Bali.

Yani, Audrey and Linda, posing before our flight to Bali.

So there we were, arriving first on Tuesday noon. Ngurah Rai International Airport looked rather grand, but the design was kind of odd. It was quite glaring that the whole stretch of autogates was almost unused while the foreigners, us included, flocked to the center for manual passport stamping. The system was clearly not working here.

Anyway, after about an hour and a half, we collected our luggage and took Grab to Ubud. We spent about one hour and 48 minutes to get to Maya Ubud Resort and Spa, the first of many long hour rides we'd have. We checked in, rested a bit and it was time for dinner. Had our meal at Pison Coffee, a delicious fried rice for me, and that was it for the day!

Taking a break after exploring the paddy fields.

The next day began with Tegalalang, the famous terraced rice fields. It looked beautiful, but going up and down the paddy fields was challenging. I was worried about Audrey and very relieved when the excursion was over. By the time we left around 10:18 AM, the weather was already hot and humid.

Bali Pulina was a more relaxed destination. It was basically a quick, educational trip to hear about luwak, and then it was time for its coffee. I ordered lupis, too, because it reminded me of BL when he queued and bought it for us during our trip to Yogyakarta. The one in Bali wasn't as nice, though. 

Audrey at Bali Pulina.

From there, we went to Sari Dewi and checked out the silver collection, because that's what you do when you're in Ubud, a place renowned for its art and craft. Then it was time for lunch at Bebek Tepi Sawah, where we literally ate ducks next to the rice fields.

The long commute began right after that. The driver and I dropped Yani and the kids at the hotel, a short but badly jammed journey, then we made our way down to the airport. All in all, we spent almost three hours on the road. It was already evening when I picked up my mum and brother, so we had dinner at Pandaloka Signature, a Chinese restaurant. It was nine o'clock by the time we returned to Maya Ubud. After a quick catch-up between grandchildren and grandma, we called it a night.

At Maya Ubud, after we checked out.

The following day began with a visit to the Ubud Art Market and then Ubud Palace. The response was lackluster. Mum wasn't keen on bargaining, and Yani was sweating profusely at the market. We had a late breakfast at Ibu Rai and almost didn't make it to Kayana. I suggested that even though we were still full, perhaps we could share the meal and nibble. Turned out that the pork ribs at Kayana were the highlight of Balinese cuisine. They were the best.

It rained heavily while we were there. We returned to Maya Ubud to collect our luggage and headed to Seminyak. It was another three hours through many, many narrow roads. It suddenly hit me that at the rate we were going, I wasn't sure if I liked Bali anymore. But Seminyak did help a bit. The vibrant vibe of it suited me better than the quiet, mystical Ubud. After we finished eating at Ambermoon Restaurant, my brother and I headed to Hard Rock Cafe and Hotel. Finally, something that excited me! The Rock Shop for Hotel Collection was huge!

Seminyak Beach.

The next morning started slow and near. We had a solid breakfast, then headed to Seminyak Beach. It didn't seem to be as crowded as it should be. Good for us, but wasn't good for the locals that relied on tourism. And we certainly didn't contribute much, apart from paying IDR 100K for a pair of beach loungers with umbrellas. And the heat! We soon made our way to Nook for lunch. 

Lunch at Nook was fine. The place was quite funky. Then it was shopping time at Krisna Sunset Road, but the one that caught my attention was the cash registers. They were still running on Windows XP! Once Mum was done, most of us returned to the hotel. Yani accompanied Linda to check out the thrift store, only to discover that it didn't open. The day eventually ended with the visit of my cousin Dewi and dinner at Dua Sisi, a restaurant nearby. 

When Dewi came visiting.

Last effective day in Bali began with a breakfast with another cousin, Andreas. I last saw him in 2022, when I visited Bali for Dewi's wedding. Always nice to hang out with him again, though both he and Dewi did mention the deteriorating charm of Bali. It just wasn't what it used to be. 

Around noon, we visited Lestari, a proper thrift store that Linda liked. But the shopping ended prematurely because her mum decided it was time to go, haha. We headed to Jimbaran where we had seafood at Lia Cafe. The beach was sad, but at least the food was decent. It was here that Linda declared she liked Koh Samui better than Bali. The weather, especially. Koh Samui was breezy and cooling, everything Bali wasn't.

With my brother Herry in Jimbaran. 

We went to GWK after lunch, but then Yani decided that we wouldn't have enough time for sightseeing as we needed to go to Uluwatu immediately to watch Kecak Dance. The dance was not Phantom of the Opera, but it got better after the appearance of Hanuman. If not for the monkey god, it wouldn't be entertaining at all. It was already dark when the dance finished, so we had dinner at Warung Laota, but not the one in Jimbaran. It was full house, hence we visited the one in Tuban instead.

And that brought me to the question from my wife: "How's the trip?" We had two family trips this year, and I'd say I loved the visit to Perth better. The experience was entirely new. Bali was... tiresome. I think my wife had done her best, but between the weather and the time spent in the car, Bali failed to meet my expectation. The only saving grace was our time together as a family. It was precious, a brilliant moment courtesy of my wife...

Trip Keluarga Ke Bali

Entah mengapa, kesan terkuat tentang Bali kali ini adalah betapa sempitnya jalanan di sana, begitu sempitnya sampai-sampai setiap mobil harus berjalan sangat pelan. Kita selalu duduk di dalam mobil. Sangat sering, dari satu titik ke titik lain, dalam waktu yang lama. Setelah kunjungan kelima ini, rasanya Bali mulai pudar pesonanya.

Mari kita kilas balik sedikit. Bali adalah ide istri saya. Terakhir kali ia ke Bali adalah 15 tahun yang lalu. Karena anak-anak juga belum pernah ke sana, kedengarannya seperti ide yang bagus. Yani menyusun rencana perjalanan, Linda memilih hotel di Seminyak (Courtyard by Marriott), dan kami hanya ikut saja. Yang saya maksud dengan "kami" termasuk ibu dan saudara laki-laki saya juga. Yani menyarankan agar kami bertemu saja langsung di Bali.

Yani, Audrey dan Linda, di pesawat menuju Bali.

Jadi, kami tiba lebih dulu pada Selasa siang. Bandara Internasional Ngurah Rai terlihat cukup megah, tapi desainnya agak aneh. Sangat terlihat mencolok bahwa seluruh deretan auto-gate hampir tidak digunakan, sementara turis asing—termasuk kami—berkerumun di tengah untuk stempel paspor manual. Sistemnya jelas tidak berjalan di sini.

Setelah antri di imigrasi sekitar satu setengah jam, kami mengambil bagasi dan naik Grab menuju Ubud. Butuh waktu sekitar satu jam 48 menit untuk sampai ke Maya Ubud Resort and Spa—perjalanan panjang pertama dari sekian banyak perjalanan berjam-jam yang akan kami lalui. Kami check-in, istirahat sejenak, dan tibalah waktu makan malam. Kami makan di Pison Coffee; nasi goreng yang lezat untuk saya, dan selesailah hari itu!

Bersantai sejenak setelah menyusuri Tegalalang.

Hari berikutnya dimulai dengan Tegalalang, sawah terasering yang terkenal itu. Pemandangannya indah, tapi naik-turun pematang sawah cukup menantang. Saya mengkhawatirkan Audrey dan merasa sangat lega ketika aktivitas itu berakhir. Saat kami pergi sekitar pukul 10:18 pagi, cuaca sudah panas dan lembab.

Bali Pulina adalah destinasi yang lebih santai. Intinya hanya edukasi singkat tentang luwak, lalu tiba waktunya untuk mencicipi kopinya. Saya juga memesan lupis yang mengingatkan saya pada BL saat ia antri dan membelikannya untuk kami saat kita berlibur di Yogyakarta. Namun, yang di Bali ini rasanya tidak seenak itu.

Audrey di Bali Pulina.

Dari sana, kami pergi ke Sari Dewi dan melihat-lihat koleksi perak, karena itulah yang biasa dilakukan saat di Ubud, tempat yang terkenal dengan seni dan kerajinannya. Lantas tiba waktunya untuk makan siang di Bebek Tepi Sawah, di mana kami benar-benar makan bebek di pinggir sawah.

Kemacetan panjang dimulai tepat setelah itu. Saya dan sopir mengantar Yani serta anak-anak ke hotel—perjalanan pendek tapi macet parah—lalu kami menuju bandara. Secara keseluruhan, kami menghabiskan hampir tiga jam di jalan. Hari sudah malam saat saya menjemput ibu dan adik saya, jadi kami makan malam di Pandaloka Signature, sebuah restoran Mandarin. Sudah jam sembilan malam saat kami kembali ke Maya Ubud. Setelah cucu dan nenek melepas rindu sejenak, kami pun beristirahat.

Di Maya Ubud, setelah kita check out.

Hari berikutnya dimulai dengan kunjungan ke Pasar Seni Ubud lalu ke Puri Ubud. Responsnya biasa saja. Mama tidak suka tawar-menawar, dan Yani berkeringat deras di pasar. Kami sarapan agak siang di Ibu Rai dan hampir saja batal ke Kayana. Saya menyarankan, meski masih kenyang, mungkin kami bisa berbagi makanan dan mencicipi sedikit saja. Ternyata, iga babi di Kayana adalah hidangan terbaik dalam kuliner Bali kali ini. Rasanya juara.

Hujan deras turun saat kami di sana. Kami kembali ke Maya Ubud untuk mengambil koper,  lalu menuju Seminyak. Perjalanan tiga jam lagi melewati banyak sekali jalan sempit. Tiba-tiba saya sadar, dengan ritme perjalanan seperti ini, saya tidak yakin apakah saya masih menyukai Bali. Tapi Seminyak sedikit membantu. Suasananya yang hidup lebih cocok bagi saya daripada Ubud yang tenang dan mistis. Setelah selesai makan di Restoran Ambermoon, kami menuju Hard Rock Cafe dan Hotel. Akhirnya, sesuatu yang membuat saya antusias! Rock Shop untuk koleksi hotelnya sangat besar!

Di Pantai Seminyak.

Keesokan paginya dimulai dengan santai dan tidak jauh-jauh. Kami sarapan dengan porsi mantap, lalu menuju Pantai Seminyak. Rasanya tidak seramai yang saya ingat. Bagus untuk kami, tapi tidak bagus bagi warga lokal yang bergantung pada pariwisata. Dan kami tidak berkontribusi banyak, hanya membayar Rp 100.000 untuk sepasang kursi pantai dengan payung. Dan panasnya itu! Kami segera bergegas ke Nook untuk makan siang.

Makan siang di Nook lumayan oke. Tempatnya cukup unik. Lalu waktunya belanja di Krisna Sunset Road, tapi yang menarik perhatian saya adalah mesin kasirnya. Mereka masih menggunakan Windows XP! Begitu Mama selesai belanja, sebagian besar dari kami kembali ke hotel. Yani menemani Linda mencari toko barang bekas (thrift store), tapi ternyata tokonya tidak buka. Hari itu berakhir dengan kunjungan sepupu saya, Dewi, dan makan malam di Dua Sisi, sebuah restoran terdekat.

Ketika Dewi datang berkunjung.

Hari efektif terakhir di Bali dimulai dengan sarapan bersama sepupu lainnya, Andreas. Terakhir saya bertemu dengannya tahun 2022, saat saya mengunjungi Bali untuk pernikahan Dewi. Selalu menyenangkan bisa mengobrol dengannya lagi, meski ia dan Dewi sama-sama menyebutkan bahwa pesona Bali mulai memudar. Sudah tidak seperti dulu lagi.

Sekitar tengah hari, kami mengunjungi Lestari, toko thrift yang sebenarnya, yang disukai Linda. Tapi acara belanja berakhir prematur karena ibunya memutuskan sudah waktunya pergi, haha. Kami menuju Jimbaran untuk makan hidangan laut di Lia Cafe. Pantainya terasa menyedihkan, tapi setidaknya makanannya lumayan. Di sinilah Linda menyatakan bahwa ia lebih suka Koh Samui daripada Bali. Terutama cuacanya. Koh Samui berangin dan sejuk, sedangkan Bali sungguh bertolak belakang.

Bersama adik saya Herry di Jimbaran. 

Kami pergi ke GWK setelah makan siang, tapi kemudian Yani memutuskan kami tidak akan punya cukup waktu untuk melihat-lihat karena harus segera ke Uluwatu untuk menonton Tari Kecak. Pertunjukannya bukan sekelas Phantom of the Opera, tapi mulai terasa seru setelah kemunculan Hanuman. Jika bukan karena sang dewa kera, pertunjukan itu tidak akan menghibur sama sekali. Hari sudah gelap saat tarian selesai, jadi kami makan malam di Warung Laota, tapi bukan yang di Jimbaran. Di sana penuh sesak, jadi kami makan di cabang Tuban.

Dan paragraf terakhir di atas membawa saya kembali pada pertanyaan dari istri saya: "Bagaimana perjalanannya?" Kami melakukan dua perjalanan keluarga tahun ini, dan saya harus bilang bahwa saya lebih suka kunjungan ke Perth. Pengalamannya benar-benar baru. Bali itu... melelahkan. Saya rasa istri saya sudah melakukan yang terbaik, tapi di antara faktor cuaca dan waktu yang habis di dalam mobil, Bali gagal memenuhi ekspektasi saya. Bila ada yang layak dikenang, maka itu adalah waktu kebersamaan kami sebagai keluarga. Itu sangat berharga, sebuah momen luar biasa berkat istri saya...